Rahmat Allah Menuntun Kita Sampai di Sini

Dari dan seizin ustadz Lili Nur Aulia

–  Di jalan ini, kita melangkah untuk meraih surga Allah swt. Surga yang luasnya melebihi keluasan langit dan bumi. 

–  Prinsip kita  dalam hal ini seperti ungkapan seorang penyair,  _man yakhthub al hasnaa, lam yaghullaha  mahru_, tak ada yang dianggap mahal bagi seorang pria yang ingin meminang gadis pilihannya.

–   Kita  ingin meminang surga yang menjadi bagian dari rangkaian mimpi-mimpi kita. Kita  ingin memperoleh ridha-Nya, cinta-Nya, yang menyebabkan kemenangan bagi kita  di dunia dan akhirat.

–   Kita  harus merasakan keberatan demi mencapai keinginan itu.

–  Ibnul Qayyim rahimahullahmengatakan

ﻓﻼ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻫﻢّ ﻟﻪ ، ﻭﻻ ﻟﺬّﺓ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺻﺒﺮ ﻟﻪ , ﻭﻻ

ﻧﻌﻴﻢ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺷﻘﺎﺀ ﻟﻪ , ﻭﻻ ﺭﺍﺣﺔ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺗﻌﺐ ﻟﻪ

“Takada kesenangan bagi orang yang tak memiliki obsesi untuk senang. Tak ada kelezatan bagi orang yang tak bersabar memperolehnya. Tak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mau berkorban untuk kenikmatan, tidak ada istirahat bagi orang yang tak mau berletih-letih untuk istirahat.“

–   Seperti juga dikatakan oleh Al Mutanabbi:

وإذا كانت النفوس كباراً

 تعبت في مرادها الأجسام

_Jika jiwa telah menjadi besar. Letih jasad mengikuti inginnya_

–    Seseorang bertanya, “Kapankah seorang da’i akan banyak tidur dan istirahat? Jika ia beristirahat atau tidur di siang hari, itu pertanda ia menyia-nyiakan orang-orang yang akan menjadi pendukung dakwahnya, orang-orang yang ia cintai, orang-orang yang ada dalam bimbingannya. Dan bila ia tidur di malam hari, itu berarti ia menyia-nyiakan dirinya.“

–   Ketika Allah swt memberi petunjuk kepada kita untuk menemui jalan ini. Ketika Allah swt menempatkan kita  berada di antara barisan para penyeru dakwah kepada-Nya.

–  Ketika itulah sesungguhnya kita  telah memilih jalan yang meletihkan. Ketika itulah sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak istirahat, tidak membiarkan terlalu banyak senda gurau dalam hal mubah sekalipun.

–  Itulah yang dikatakan juga oleh salah seorang salafushalih, ketika ia ditanya, “Apa yang bisa mengurangi tekad seseorang?“ Ia menjawab, “Panjang angan-angan, dan gemar istirahat.“  (Al Masaar, Muhammad Ahmad Ar Rasyid/ 165)

–  Ada ilustrasi lain yang diuraikan Ahmad Ar Rasyid, “Seorang da’i menolak duduk apalagi beristirahat lama-lama. Jika ia pulang ke rumahnya tengah malam, dan melihat debu di tubuhnya, tersungging senyuman di wajahnya, gembira hatinya. Berkata ia pada jiwanya, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah akan haramkan dia dari neraka.“ Selanjutnya ia akan tertidur dengan hati bahagia karena debu-debu yang diperolehnya selama perjalanan dakwah. Sementara orang lain tidur gembira dengan kekayaannya yang disimpan di bank-bank.“ (Bawariq da’wiyah/91)

–  Bukan berarti kita tidak boleh istirahat ya. Sebab kita  berada di jalan ini karena rahmat Allah swt. Rahmat Allah itu juga yang menuntun kita  hingga sampai di jalan ini dan bertemu di sini. Dan jalan ini sendiri adalah jalan yang penuh dengan hamparan rahmat Allah swt.  

–   Tarik nafas dalam-dalam. Pejamkan mata. Lepaskan nafas seiring ucapan tasbih, tahmid, takbir, tahlil.

#menghiburuntukyanglagiletihmeskitidakberdebu 🙂

Suara Hati; Dan Katakanlah Bekerjalah Kalian..!!

Segala puji hanya milik Allah dan shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya…

Allah SWT berfirman: “Dan bekerjalah kalian, niscaya Allah akan melihat perbuatan kalian, dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (At-Taubah:105); maksudnya adalah bahwa perbuatan kalian tidak dapat disembunyikan dihadapan Allah dan dihadapan Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman, dan barangsiapa yang menyadari bahwa perbuatannya tidak dapat disembunyikan maka dirinya akan termotivasi dan senang melakukan perbuatan baik, menjauhi perbuatan jahat, memiliki semangat tinggi disertai dengan ikhlas karena Allah, karena itu semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas jika bersatu maka akan mencapai tujuan yang diinginkan… Allah SWT berfirman: “Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. (Muhammad:21)

Risalah yang agung harus diiringi dengan semangat yang tinggi…

Wahai Ikhwan…

Demikianlah seruan Allah kepada kalian dan umat manusia seluruhnya, dan kalian lebih utama untuk bersegera melakukan ketaatan; karena kalian memiliki tugas membawa risalah yang agung ini… risalah nabi Muhammad saw yang juga membawa kebaikan untuk seluruh dunia, dan yang tidak mungkin dapat mencapai tujuan yang hakiki kecuali oleh para dua yang berpegang teguh pada agama dengan kuat, siap menanggung beban risalah dengan penuh kesungguhan dan azam. Allah berfirman: “Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh “. (Maryam:12) “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; Maka (kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh”. (Al-A’raf:145) dan firman Allah: “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu “. (Al-Baqarah:63)

Karena itu berpegang teguh pada kitab ini dan membawa risalah ini membutuhkan adanya perasaan akan tanggungjawab yang besar, azimah yang kuat dan keteguhan yang kokoh, yang tidak akan mampu dibawanya kecuali orang-orang mulia pilihan dan siap berjuang dan berkorban…ustadz imam Hasan Al-Banna rahimahullah berkata kepada pemuda pengemban dakwah:

“إِنَّمَا تَنْجَحُ الْفِكْرَةُ إِذَا قَوِيَ الإِيْمَانُ بِهَا، وَتَوَفَّرّ الإِخْلاَصُ فِي سَبِيْلِهَا، وَازْدَادَتْ الْحَمَاسَةُ لَهَا، وَوُجِدَ الاسْتِعْدَادُ الَّذِي يَحْمِلَ عَلىَ التَّضْحِيَةِ وَالْعَمَلُ لِتَحْقِيْقِهَا“.

“Keberhasilan ideologi itu hanya akan tercapai jika keimanan yang kokoh dengannya, keikhlasan yang penuh di jalannya, meningkat terus semangat untuknya dan terdapat kesiapan diri untuk berkorban dan bekerja untuk mewujudkannya”.

Kalian adalah pilihan umat ini…

Rasulullah saw bersabda:

تَجِدُونَ النَّاسَ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لاَ يَجِدُ الرَّجُلُ فِيهَا رَاحِلَةً

“Kalian menemukan di tengah umat manusia seperti 100 unta, tidak seorangpun yang mendapatkan unta pilihan”. Dalam riwayat lain disebutkan:

لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً

“Hampir saja tidak ditemukan di dalamnya unta pilihan”. (Syaikhani).

Dan makna rahilah adalah unta yang bagus kuat mampu membawa beban berat dan perjalanan yang panjang, indah dilihat dan bentuk yang menakjubkan, dan yang demikian sangatlah jarang, begitu pula manusia yang produktif yang mampu membawa beban dan tanggung, membawa beban berat dan pengorbanan untuk mewujudkan tujuan yang mulia; mereka sangatlah sedikit, bahkan hampir sulit ditemukan dari setiap 100 orang salah seorang dari mereka. Nabi saw bersabda:

لاَ نَعْلَمُ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ مِائَةٍ مِثْلِهِ إِلَّا الرَّجُلَ الْمُؤْمِنَ

“Kami tidak mendapatkan sesuatu kebaikan dari seratus orang yang serupa kecuali seseorang yang beriman”. (Ahmad) dan dalam riwayat lain

لا نَعْلَمُ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ أَلْفٍ مِثْلِهُ إِلَّا الرَّجُلَ الْمُؤْمِنَ

“Kamu tidak akan mendapatkan sesuatu kebaikan dari seribu orang yang sama kecuali seseorang yang beriman”. (Thabrani),

dan dengan seperti inilah disempurnakan proses tarbiyah dalam dakwah kalian, wahai ikhwan kalian bukan bagian dari mereka yang disampaikan di dalamnya

إنّي لأفتَحُ عَينِيَ حِينَ أفتَحُها        عَلَى كَثِيرٍ ولكن لا أرى أحَدا

Sungguh saya akan membuka kedua mata saya saat saya akan membukanya, Pada khalayak ramai namun saya tidak mendapatkan seorangpun.

Bahkan kalian mengerahkan jiwa kalian untuk melakukan peran yang besar dalam memberikan pelayanan pada agama dan umat, kalian bangkit dengannya, dan membangkitkan umat bersama kalian, karena itulah imam Syahid berkata:

وَمِنْ هُنَا كَثُرَتْ وَاجِبَاتُكُمْ، وَمِنْ هُنَا عَظُمَتْ تَبَعَاتُكُمْ، وَمِنْ هُنَا تَضَاعَفَتْ حُقُوْقُ أُمَّتِكُمْ عَلَيْكُمْ، وَمِنْ هُنَا ثقُلَتْ الأَمَانَةُ فِي أَعْنَاقِكُمْ، وَمِنْ هُنَا وَجَبَ عَلَيْكُمْ أَنْ تُفَكِّرُوْا طَوِيْلاً، وَأَنْ تَعْمَلُوْا كَثِيْرًا، وَأَنْ تُحَدِّدُوْا مَوْقِفَكُمْ، وَأَنْ تَتَقَدَّمُوْا لِلإِنْقَاذِ، وَأَنْ تُعْطُوا الأمَّةَ حَقَّهَا كَامِلاً مِنْ هَذَا الشَّبَابِ

“Dari sinilah tampak kewajiban kalian begitu banyak, begitu berat beban atas kalian, begitu banyak hak-hak umat atas kalian, begitu berat amanah yang dipikulkan di pundak kalian, karena itu wajib atas kalian untuk berfikir panjang, bekerja lebih banyak, menentukan sikap, maju ke depan untuk melakukan penyelamatan, memberikan umat hak mereka secara sempurna dari para pemuda ini”.

Janganlah menjadi plin-plan

Wahai ikhwan, sesungguhnya gamblangnya misi kalian, mulianya tujuan kalian dan tingginya visi-visi kalian, dan memberikan pemahaman kepada kalian untuk kebutuhan dunia pada dakwah kalian untuk bersegera memperbaharui azam kalian dan menampilkan potensi kalian, mendorong kalian untuk berada di shaf terdepan bersama para reformis, mencegah kalian bermalas-malasan dan futur, canggung dan ragu atau memiliki karakter mengekor, demikianlah nabi saw mengingatkan:

لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ؛ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا

“Janganlah menjadi orang yang plin-plan, dengan berkata: Jika manusia baik kami akan ikut baik, jika mereka zhalim kamipun akan ikut zhalim, namun teguhkanlah pendirian kalian; jika manusia baik maka berbuatlah lebih baik, dan jika mereka berbuat jahat maka jangan ikut melakukannya”. (Tirmidzi)

Al-akh ust. AL-Bahi Al-Khuli berkata: “Bahwa seorang da’i wajib merasakan bahwa dakwahnya hidup dalam persendiannya, bergelora di dalam hatinya, mengalir pada aliran darahnya, sehingga mampu merubah dari sikap santai dan malas pada gerak dan kerja, menyibukkan diri  dalam jiwanya, anaknya dan hartanya, demikianlah seorang da’i yang jujur yang merasakan keimanan pada dakwah dalam pandangan, gerak dan petunjuk, dalam bentuk yang bercampur dengan air wajahnya”.

Dari titik tolak ini saya ingin menyeru kalian –wahai ikhwah yang tercinta- pada silsilah (rangkaian) dari (suara hati) saya mengingatkan kalian dan diri saya sendiri yang di dalamnya ada kewajiban kita yang terbesar dan misi kita yang mulia, untuk membangkitkan kembali semangat kita, menggerakkan kembali azam kita, meninggalkan kemalasan dan futur, menjadikan segala perkara Allah untuk kita, dan berprasangka baik pada umat bagi kita, tidak menjadikan kewajiban dan dakwah banyak permusuhan dan penopang kekuatan jahat.

Saya sangat yakin bahwa jika kita mampu merealisir kekuatan maka kelak Allah akan memberikan kemenangan dan mewujudkan cita-cita. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang Mengadakan perbaikan”. (Al-A’raf:170)

Renungkanlah akhi yang mulia apa yang difirmankan Allah “Orang-orang yang berpegang teguh” sebagai petunjuk akan kekuatan, semangat, azam, kesungguhan, motivasi dalam mengambil kita..!

Sampai jumpa lagi pada pertemuan “Suara hati” saya memohon kepada Allah yang tidak pernah menyiapkan titipan kepada-Nya.

Allahu Akbar

Dan segala puji hanya milik Allah.

Muhammad Mahdi Akif

TADABBUR AYAT BERAWALAN “YA AYYUHAL LADZINA AMANU” (2) La Taquulu Raa’ina

 

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih” . (Al-Baqarah:104)

Ayat ini merupakan seruan pertama Allah kepada orang-orang beriman, terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 104, seruan sekaligus larangan kepada orang-orang beriman untuk tidak menyerupai akhlak dan perilaku musuh Allah yaitu Yahudi, mereka yang meniru perkataan orang-orang beriman namun diplesetkan menjadi sebuah ejekan.

Orang beriman adalah mulia, Allah telah memberikan hidayah kepadanya sebagai nikmat paling indah dan mulia, namun anugerah ini harus dijaga dan dipelihara dengan cara memiliki akhlak yang mulia, diantaranya adalah dengan tidak meniru perilaku buruk orang-orang yahudi yang suka mengejek umat Islam terutama Nabi Muhammad saw.

Sebab diturunkannya seruan ini

Ibnu Abbas RA menjelaskan tentang sebab diturunkannya seruan ini sebagai berikut: “Pada mulanya umat Islam berkata Ra’ina kepada Rasulullah saw sebagai permohonan dan keinginan untuk mendapat perhatian. kata Ra’ina berarti Perhatikanlah kami! namun kata ini diubah menjadi umpatan oleh kaum yahudi. Mereka mempergunakan kata tersebut ditujukan kpeada Nabi saw lalu menertawakannya. Dan ketika Sa’ad bin Mu’adz mendengar ejekan mereka, maka ia pun berkata kepada kaum Yahudi, “Semoga laknat Allah menimpa kalian, sungguh jika aku mendengar ejekean seperti ini keluar dari mulut salah seorang dari kalian dan dikatakan dihadapan Rasulullah saw niscaya aku penggal lehernya. Kaum Yahudi menjawab: “Bukankah kalian juga mengatakan demikian”?. Kemudian Allah menurunkan ayat ini dan melarang orang-orang beriman mengucapkan kata Ra’ina suapaya kata tersebut tidak diputarbalikkan oleh kaum Yahudi dengan tujuan merusak maknanya.

Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang  Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan “Unzhurna” yang juga sama artinya dengan Raa’ina.

Ibnu Katsir berkata: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman menyerupai kaum kafir, baik dalam ucapan ataupun dalam perbuatan, karena kaum Yahudi mencermati ungkapan yang dapat diputarbalikkan maksudnya. Ketika mereka ingin berkata, Isma’ lana (dengarkanlah kami), maka kata yang mereka gunakan adalah Raina yang mereka putar balikkan menjadi Ru’unah yang berarti kebodohan yang sangat”.

 

Inti sari Ayat:

Bahwa ayat diatas menegaskan kepada orang beriman untuk mendengar dan memperhatikan 3 hal:

  1. Tidak Menyerupai Kaum Kafir baik perkataan maupun perbuatan

Konteks ayat diatas bisa difahami menyerupai orang Yahudi secara mutlak yang mengakibatkan kekufuran, atau menyerupai mereka dalam kadar/aspek tertentu; kekafirannya, tren atau karakter, maka hukumnya disesuaikan dengan hal itu. Yang jelas, ayat ini menuntut pengharaman menyerupai mereka di segala segi. Adapun maksud dari penyerepuaan disini adalah umum, mencakup (orang yang berbuat sesuatu) karena orang lain melakukan itu juga dan (orang yang meniru orang lain) dalam suatu perbuatan dengan tujuan memperoleh perhatian dari orang yang ditiru.

Dan pada masa sekarang ini, umat Islam senantiasa meniru barat dalam segala hal, baik dalam ucapan maupun tindakan, aktivitas dan sikap, tradisi dan pakaian, dengan kayakinan bahwa merekalah sumber kebudayaan, pusat peradaban dan jalan menuju kebangkitan. Bahkan kaum wanitanya pun ikut-ikutan dengan pakaian yang terbuka, mini dan bahkan hampir telanjang, jika ditanya maka mereka akan menjawab “inilah mode yang lagi nge-trend”.  Padahal Nabi saw bersabda: “Wanita manapun yang melepaskan bajunya selain di rumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka aib antara dirinya dan Allah SWT”.

  1. Beretika yang baik dan sopan kepada Rasulullah saw

Seruan yang sedang kita bicarakan ini juga menegaskan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin kepada Rasulullah saw, berlaku sopa dan hormat kepada Rasulullah saw. Menjaga etika di hadapan Rasulullah saw juga berarti mengimplementasikan sunnah Nabi dan mengikuti akhlak beliau, tidak menjadikan panggilan kepada nya seperti panggilan panggilan kita kepada umat Islam lainnya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”. (An-Nuur:63)

Adh-Dhahak berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya para Sahabat memanggil Rasulullah saw dengan Wahai Muhammad, Wahai bapak Qasim (ya Abul Qasim) maka Allah melarangnya sebagai penghormatan kepada Nabi saw. Allah berfirman: Maka katakanlah wahai Nabiyullah, wahai Rasulullah”.

  1. Informasi bahwa orang kafir pasti akan mendapat azab yang pedih

Diakhir ayat Allah SWT menegaskan tentang akibat buruk atas orang-orang kafir yaitu azab yang pedih, dan tentunya maksud dari ungkapan tersebut adalah bahwa mengejek, mencela dan mencemooh nabi adalah perbuatan orang-orang kafir sehingga harus dijauhi oleh orang-orang beriman, karena jika dilakukan maka nasibnya seperti orang-orang kafir yang mendapat siksa yang pedih.

Jika diawal Allah menyeru orang-orang beriman dan diakhiri tentang orang-orang kafir, maka maksudnya adalah bahwa orang beriman pasti akan mendapat nikmat yang berlimpah dan penuh dengan kesenangan, sementara orang kafir akan beroleh azab yang pedih dan penuh dengan penderitaan.

Urgensi Tarbiyatul Aulad

يقول الإمام ابن القيم- رحمه الله – تعالى-: (من أهملَ تعليم ولده ما ينفعه، وتركه سُدى، فقد أساءَ إليه غاية الإساءة، وأكثرُ الأولاد إنما جاءهم الفساد من قبل الآباء وإهمالهم، وترك تعليمهم فرائض الدين وسننه، فأضاعوهم صغاراً فلم ينتفعوا بأنفسهم، ولم ينفعوا آباءهم كباراً، كما عاتب بعضهم ولدهُ على العقوق فقال: يا أبت إنك عققتني صغيراً فعققتك كبيراً، وأضعتني صغيراً فأضعتك شيخاً).

Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Siapa mengabaikan pendidikan anaknya tentang apa yang bermanfaat baginya dan membiarkan begitu saja. Maka ia melakukan kejahatan paling jahat kepadanya. Kebanyakan anak-anak itu mendapatkan pelajaran kejahatan dari orang tua mereka dan karena pengabaian mereka. Orang tua yang tidak mengajarkan kewajiban dan sunnah-sunnah agama, berarti ia menyia-nyiakannya di waktu kecil maka mereka tidak mendapatkan manfaat dari orang tua mereka dan tidak akan memberi manfaat kepada orang tua saat mereka dewasa. Seperti seseorang yang marah kepada anaknya karena ia durhaka. Mereka berkata, “Ayanda, engkau telah durhaka kepadaku di waktu aku masih kecil maka aku durhaka kepadamu di waktu engkau sudah besar, engkau sia-siakan aku di waktu kecil maka aku sia-siakan kamu di waktu tua.”

PINJAMI AKU SATU HARI SAJA

_..Perlahan….tubuhku diturunkan ke dalam lubang yang sempit…_

Namun dengan cepat kemudian badanku ditimbun tanah

Lalu semua orang meninggalkanku

Masih terdengar jelas langkah kaki mereka

😭 _Kini aku sendirian…!_di tempat yang gelap, tak pernah terbayangkan

Sekarang aku sendiri, menunggu ujian

Suami/istri belahan jiwa pun pergi

Anak… yang di tubuhnya mengalir darahku… juga pergi

Apalagi sahabatku… kawan dekat… rekan bisnis…

😭 _Ternyata aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka_!!

Menyesal pun… tiada berguna

Taubat tak lagi diterima

Minta maaf… tak lagi didengar..

Kini aku sendirian mempertanggungjawabkan apa yang pernah aku lakukan…

😭Ya Allah, kalau boleh…

_*Tolong pinjamkan satu hari saja milik-Mu*_

_Aku akan berkeliling mohon maaf kepada mereka_

_Yang telah merasakan kezalimanku_

Yang susah dan sedih karena ulahku

Yang aku sakiti hatinya

Yang telah aku bohongi

😭Ya Allah,,,berikan aku satu hari saja . .

_Untuk memberi seluruh baktiku untuk ayah ibu tercinta_

Demi memohon maaf atas kata-kataku yang keras lagi tak sopan

Maafkan aku, Ayah..Ibu..,

Aku sungguh ingin sujud memohon ridha mereka

Maafkan aku

Aku ingin mengatakan bahwa aku sangat berterimakasih

Atas apa yang mereka korbankan untukku

😭Ya Allah… pinjamkan satu hari saja . .

_Yang akan aku gunakan setiap detiknya_

_Untuk ruku’ dan sujud kepada-Mu_

Beramal shalih dengan tulus

Menyedekahkan seluruh hartaku yang tersisa, di jalan-Mu

😭Menyesaaaaal… sekali rasanya !

Waktu-waktuku berlalu dengan sia-sia

_Bahkan Al Qur’an firman-Mu dengan malas-malasan kubaca_

Andai kubisa putar ulang waktu itu..

Tapi… aku telah dimakamkan hari ini…

😭 _Sakitnya sakaratul maut masih menancap pada setiap senti tubuhku yang kini kaku_

Tenggorokanku serasa ditancapi dahan besar yang penuh duri tajam

Lalu dahan itu ditarik dengan sekuat tenaga oleh malakul maut

Sakit…. sakit sekali…

Seratus tahun pun tak hilang rasa sakit ini…

😭Kulit dan tulangku seperti digergaji lalu direbus dalam belanga

Nyeri… panas….masih terasa

Dagingku pun terasa terlepas dari tulangnya

_Duhai … kerasnya tarikan malakul maut itu…_

😭Seandainya aku masih bisa bercerita…

_Tentu tak akan tenang tidur teman-temanku yang masih hidup_

Seumur hidup mereka tak akan pernah lagi tidur nyenyak..

Andai saja mereka tahu…

😭Baru beberapa saat dalam gelap…

Masih terdengar sayup-sayup suara sandal orang-orang yang meninggalkanku…

Tanah kuburku masih gembur

Baru saja ditidurkan sendirian

_Aku lihat tanah kuburan ini makin lama makin menyempit_

Dari kiri, kanan, atas dan bawah, makin mendekat

Aku ngeri… mereka terus menghimpitku dengan kejam

😭Aku ingin berteriak…tapi tak mampu…

Tubuhku remuk, rusukku bertindihan

Organ-organ dalamku hancur_

Inilah yang dijanjikan Allah pada semua mayat, termasuk mayat orang shalih

_Akankah diluaskan lagi kuburku setelah ini?_

Bagaimanakah aku menjawab pertanyaan ujian setelah ini?

_O…andaikan aku bisa keluar dari sini…_ 

SAHABATKU . . MASIHKAH KITA INGIN MENAMBAH DOSA2 KITA SETELAH MEMBACA

 ‘ JERITAN DARI KUBUR’ INI . .

_ingat ajal tdk menunggu tobat kita . .dan PASTI DATANG_ ‼

*Semoga kita bisa mengubah sikap dan prilaku kita,…*

*Aamiin …..*

آمين يارب العالمين 

🔵 *SUBHANALLAH*

🔵 *SUBHANALLAH*

KARYA KEPATUTAN KITA

ADAKAH MOMEN MAHAL SEBAGAI KARYA KEPATUTAN KITA???

روى الحاكم في المستدرك على الصحيحين قال : قال رسول الله يوم الخندق بعد ان قتل علي عمرو بن عبدود لضربت علي يوم الخندق خير من عبادة الثقلين الى يوم القيامة

 

Diriwayatkan oleh Imam Al Hakim Dalam Kitabnya Al Mustadrak yang dishahihkan Imam Bukhari dan Muslim, dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda pada hari Pertempuran Khandaq setelah terbunuhnya Amr bin Abdi Wud: “Sesungguhnya tebasan pedang Ali bin Abi Thalib RA. Pada hari pertempuran Khandaq itu lebih baik daripada ibadahnya penghuni langit dan bumi hingga hari Kiamat”.

Berharganya sebuah karya: (1) karena momen mahal yang jarang terjadi dan sulit kita dapatkan kesempatan itu berulang, (2) Hasil karyanya memberikan dampak yang sangat luar biasa baik secara internal kaum muslimin maupun eksternal yang dirasakan mereka, (3) Tidak semua orang bisa lakukan hal yang dia sumbangsihkan, (4) Karyanya merupakan karya yang unik dan langka.