TADABBUR AYAT BERAWALAN “YA AYYUHAL LADZINA AMANU” (2) La Taquulu Raa’ina

 

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih” . (Al-Baqarah:104)

Ayat ini merupakan seruan pertama Allah kepada orang-orang beriman, terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 104, seruan sekaligus larangan kepada orang-orang beriman untuk tidak menyerupai akhlak dan perilaku musuh Allah yaitu Yahudi, mereka yang meniru perkataan orang-orang beriman namun diplesetkan menjadi sebuah ejekan.

Orang beriman adalah mulia, Allah telah memberikan hidayah kepadanya sebagai nikmat paling indah dan mulia, namun anugerah ini harus dijaga dan dipelihara dengan cara memiliki akhlak yang mulia, diantaranya adalah dengan tidak meniru perilaku buruk orang-orang yahudi yang suka mengejek umat Islam terutama Nabi Muhammad saw.

Sebab diturunkannya seruan ini

Ibnu Abbas RA menjelaskan tentang sebab diturunkannya seruan ini sebagai berikut: “Pada mulanya umat Islam berkata Ra’ina kepada Rasulullah saw sebagai permohonan dan keinginan untuk mendapat perhatian. kata Ra’ina berarti Perhatikanlah kami! namun kata ini diubah menjadi umpatan oleh kaum yahudi. Mereka mempergunakan kata tersebut ditujukan kpeada Nabi saw lalu menertawakannya. Dan ketika Sa’ad bin Mu’adz mendengar ejekan mereka, maka ia pun berkata kepada kaum Yahudi, “Semoga laknat Allah menimpa kalian, sungguh jika aku mendengar ejekean seperti ini keluar dari mulut salah seorang dari kalian dan dikatakan dihadapan Rasulullah saw niscaya aku penggal lehernya. Kaum Yahudi menjawab: “Bukankah kalian juga mengatakan demikian”?. Kemudian Allah menurunkan ayat ini dan melarang orang-orang beriman mengucapkan kata Ra’ina suapaya kata tersebut tidak diputarbalikkan oleh kaum Yahudi dengan tujuan merusak maknanya.

Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang  Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan “Unzhurna” yang juga sama artinya dengan Raa’ina.

Ibnu Katsir berkata: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman menyerupai kaum kafir, baik dalam ucapan ataupun dalam perbuatan, karena kaum Yahudi mencermati ungkapan yang dapat diputarbalikkan maksudnya. Ketika mereka ingin berkata, Isma’ lana (dengarkanlah kami), maka kata yang mereka gunakan adalah Raina yang mereka putar balikkan menjadi Ru’unah yang berarti kebodohan yang sangat”.

 

Inti sari Ayat:

Bahwa ayat diatas menegaskan kepada orang beriman untuk mendengar dan memperhatikan 3 hal:

  1. Tidak Menyerupai Kaum Kafir baik perkataan maupun perbuatan

Konteks ayat diatas bisa difahami menyerupai orang Yahudi secara mutlak yang mengakibatkan kekufuran, atau menyerupai mereka dalam kadar/aspek tertentu; kekafirannya, tren atau karakter, maka hukumnya disesuaikan dengan hal itu. Yang jelas, ayat ini menuntut pengharaman menyerupai mereka di segala segi. Adapun maksud dari penyerepuaan disini adalah umum, mencakup (orang yang berbuat sesuatu) karena orang lain melakukan itu juga dan (orang yang meniru orang lain) dalam suatu perbuatan dengan tujuan memperoleh perhatian dari orang yang ditiru.

Dan pada masa sekarang ini, umat Islam senantiasa meniru barat dalam segala hal, baik dalam ucapan maupun tindakan, aktivitas dan sikap, tradisi dan pakaian, dengan kayakinan bahwa merekalah sumber kebudayaan, pusat peradaban dan jalan menuju kebangkitan. Bahkan kaum wanitanya pun ikut-ikutan dengan pakaian yang terbuka, mini dan bahkan hampir telanjang, jika ditanya maka mereka akan menjawab “inilah mode yang lagi nge-trend”.  Padahal Nabi saw bersabda: “Wanita manapun yang melepaskan bajunya selain di rumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka aib antara dirinya dan Allah SWT”.

  1. Beretika yang baik dan sopan kepada Rasulullah saw

Seruan yang sedang kita bicarakan ini juga menegaskan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin kepada Rasulullah saw, berlaku sopa dan hormat kepada Rasulullah saw. Menjaga etika di hadapan Rasulullah saw juga berarti mengimplementasikan sunnah Nabi dan mengikuti akhlak beliau, tidak menjadikan panggilan kepada nya seperti panggilan panggilan kita kepada umat Islam lainnya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”. (An-Nuur:63)

Adh-Dhahak berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya para Sahabat memanggil Rasulullah saw dengan Wahai Muhammad, Wahai bapak Qasim (ya Abul Qasim) maka Allah melarangnya sebagai penghormatan kepada Nabi saw. Allah berfirman: Maka katakanlah wahai Nabiyullah, wahai Rasulullah”.

  1. Informasi bahwa orang kafir pasti akan mendapat azab yang pedih

Diakhir ayat Allah SWT menegaskan tentang akibat buruk atas orang-orang kafir yaitu azab yang pedih, dan tentunya maksud dari ungkapan tersebut adalah bahwa mengejek, mencela dan mencemooh nabi adalah perbuatan orang-orang kafir sehingga harus dijauhi oleh orang-orang beriman, karena jika dilakukan maka nasibnya seperti orang-orang kafir yang mendapat siksa yang pedih.

Jika diawal Allah menyeru orang-orang beriman dan diakhiri tentang orang-orang kafir, maka maksudnya adalah bahwa orang beriman pasti akan mendapat nikmat yang berlimpah dan penuh dengan kesenangan, sementara orang kafir akan beroleh azab yang pedih dan penuh dengan penderitaan.

TADABBUR AYAT-AYAT BERAWALAN “YA AYYUHAL LADZINA AMANU”

 

PENDAHULUAN

Sesungguhnya  Allah  memuliakan umat Muhammad saw ini dengan memberikan kitab yang agung yaitu Al-Qur’an Al-Karim. Kitab ini bisa membuka mata yang buta, menyaringkan telinga yang tuli, menyelamatkan jiwa dari sifat yang hina, mengobati yang sakit. Al-Qur’an adalah penuntun yang tidak akan menyesatkan jalan dan pemandu yang tidak akan menyalahkan kebenaran. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang berawalan “Ya Ayyuhal ladzina Amanu”, sebanyak 89 kali panggilan Allah kepada orang-orang beriman yang seluruhnya dimulai dengan kata: “Ya Ayyuhal ladzina Amanu”.

Seseorang pernah berkata kepada Abdullah bin Mas’ud RA: Wahai Abdullah beritahukanlah aku. Abdullah menjawab: “Jika kamu mendengar firman Allah. “Ya Ayyuhal ladzina Amanu” maka siapkanlah telingamu, sesungguhnya panggilan itu menyuruh kepada kebaikan atau melarang suatu kejahatan”.

Dalam sebuah buku yang disusun oleh Syaikh Muhammad Abdul Athi Buhairi, hal 3 disebutkan bahwa panggilan yang terdapat dalam Al-Qur’an terbagi menjadi dua macam:

  1. Panggilan nama (Nida Alamah)
  2. Panggilan kemuliaan / kehormatan (Nida karomah)

Ketika Allah menyeru kepada seluruh Nabi dan Rasul-Nya dengan panggilan nama. Allah berfirman: Hai Adam, Hai Nuh, Hai Irahim, Hai Musa, Hai Isa. Akan tetapi, saat Allah menyeru kekasih dan pilihan-Nya, Muhammad saw dengan panggilan kemuliaan, Hai Nabi, Hai Rasul, Hai orang-orang yang berselimut. Begitu pula ketika Allah menyeru seluruh umat-umat yang terdahulu dengan panggilan nama, Allah berfirman kepada kaum Musa dalam Taurat, “Hai orang-orang Miskin”. berfirman dalam Injil, “Hai keturunan air dan tanah”. Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Hai Bani Israil”. Namun ketika suatu perkata berkaitan dengan kekasih dan pilihan Allah, maka Allah menyeru mereka dengan panggilan kemuliaan, “Ya Ayyuhal ladzina Amanu”.

Kesimpulan dari seruan ini adalah bahwa Allah hendak memberikan 6 kegembiraan bagi orang-orang yang mendapat seruan:

  1. Kecintaan Allah. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah: 54, “Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah”.
  2. Pertolongan dari Allah. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum: 47,

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman”.

  1. Mendapat kejayaan dan kemuliaan. Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun: 8,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لا يَعْلَمُونَ

” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui”.

  1. Mendapat Rahmat, Allah SWT berfiman dalam surat Al-Ahzab: 43

وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”.

  1. Mendapat karunia yang besar dari Allah. Allah berfirman dalam surat Al-Ahzab:47.

وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلا كَبِيرًا

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah”.

  1. Mendapat Syafaat yang agung pada hari kiamat. Allah berfirman dalam surat Yunus: 2.

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ قَالَ الْكَافِرُونَ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ مُبِينٌ

“Dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang Tinggi di sisi Tuhan mereka”. orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata”.

Dan setelah dicermati lagi tentang ayat-ayat yang berawalan  “ya Ayyuhal ladzina amanu” maka dapat ditemukan bahwa seruan tersebut mengatur hubungan

  1. Antara hamba dengan Allah SWT
  2. Antara hamba dengan Rasul dan kekasih Allah SWT, Nabi Muhammad saw
  3. Antara hamba secara individu dengan keluarganya
  4. Antara hamba secara individu dengan masyarakatnya khususnya masyarakat Islam
  5. Antara hamba dengan masyarakat secara umum baik orang-orang kafir dan durhaka.