Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk

FIQIH📚 F-005

Ustadz. Ahmad Sahal Lc.

Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk

✅ Yang dimaksud dengan madzhab fiqih mayoritas penduduk dalam hal ini adalah salah satu dari sekian madzhab yang mu’tabar (diakui) menurut Ahlu As-Sunnah wa Al-Jama’ah, terutama empat madzhabnya yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, di mana perbedaan pendapat di antara empat madzhab tersebut adalah perbedaan yang mu’tabar dan sah. 

Dan untuk Indonesia, mayoritas ulamanya mendalami dan mengajarkan fiqih madzhab Syafi’i kepada masyarakat.

📖 Dalil yang menunjukkan penghormatan kepada madzhab mayoritas penduduk diantaranya adalah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اَلصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

Berpuasa adalah pada hari di mana kalian berpuasa, idul fitri adalah hari kalian beridul fitri, dan idul adha adalah hari kalian beridul adha (berqurban). (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Ad-Daraquthni – shahih).

✅ Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan makna hadits ini:

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ هَذَا الحَدِيثَ، فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالفِطْرَ مَعَ الجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ .

Dan sebagian ulama menafsirkan hadits ini, dengan perkataan: “Yang dimaksud adalah bahwa berpuasa dan beridul fitri itu bersama jamaah dan mayoritas masyarakat.”

Dari hadits dan penjelasannya terlihat bahwa penghormatan terhadap pendapat mayoritas masyarakat – selama bukan kesesatan – adalah bagian dari arahan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan pendapat salah satu madzhab fiqih yang mu’tabar bukanlah kesesatan. Bahkan untuk masalah-masalah yang berkaitan erat dengan syiar persatuan dan kebersamaan, seperti puasa Ramadhan, idul fitri dan idul adha, penghormatan itu diarahkan sampai pada tingkat mengikuti pendapat mayoritas masyarakat muslim dan meninggalkan pendapat sendiri, bukan sekedar menghargai lalu tetap melaksanakan pendapat sendiri atau pendapat minoritas. Apalagi jika pendapat mayoritas ini dikuatkan dengan keputusan dari pihak yang berwenang.
🎯 Praktek Salaf Shalih dan Para Ulama Besar
✅ Sikap ‘Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah

Khalifah ‘Umar bin Abdul ‘Aziz menetapkan dan mengumumkan ketetapannya ke seluruh wilayah khilafah saat itu:

لِيَقْضِ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا اجْتَمَعَ عَلَيْهِ فُقَهَاؤُهُمْ 

Hendaklah setiap kaum memutuskan perkara (diantara mereka) dengan kesepakatan dari ahli fiqih mereka masing-masing. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya).

Zuraiq bin Hakim rahimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz saat ia menjadi gubernur Syam:

إِنَّكَ كُنْتَ تَقْضِي بِالْمَدِينَةِ بِشَهَادَةِ الشَّاهِدِ الوَاحِدِ وَيَمِينِ صَاحِبِ الحَقِّ، فَكَتَبَ إِلَيْهِ عُمَرُ بنُ عَبْدِ العَزِيزِ: إِنَّا كُنَّا نَقْضِي بِذَلِكَ بِالْمَدِينَةِ، فَوَجَدْنَا أَهْلَ الشَّامِ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ، فَلَا نَقْضِي إِلَّا بِشَهَادَةِ رَجُلَيْنِ عَدْلَيْنِ، أَوْ رجُلٍ وَامْرَأَتَيْنِ

“Sesungguhnya engkau dulu di Madinah memutuskan (perkara) dengan kesaksian seseorang dan sumpah dari pemilik hak.”

Maka Umar bin Abdul Aziz menulis balasannya: “Sesungguhnya kami sebelumnya memutuskan seperti itu di Madinah, lalu kami menemukan penduduk Syam tidak seperti itu. Maka kami tidak memutuskan kecuali dengan kesaksian dua orang laki-laki yang terpercaya atau dengan kesaksian seorang laki-laki dan dua orang perempuan (mengikuti kebiasaan penduduk Syam).” (I’lam Al-Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 3/97).

Hal tersebut menunjukkan bahwa Umar bin Abdul Aziz amat peduli untuk TIDAK MENGUBAH kebiasaan suatu masyarakat selama kebiasaan itu tetap dalam bingkai syariat.
✅ Sikap Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah

Saat Khalifah Abu Ja’far Al-Manshur hendak menyatukan kaum muslimin dari berbagai wilayah dengan pendapat Al-Imam Malik, beliau menolak dan menyatakan:

فَإِنْ ذَهَبْتَ تُحَوِّلُهُمْ مِمَّا يَعْرِفُونَ إِلَى مَا لَا يَعْرِفُونَ رَأَوْا ذَلِكَ كُفْرًا وَلَكِنْ أَقِرَّ أَهْلَ كُلِّ بَلْدَةٍ عَلَى مَا فِيهَا مِنَ العِلْمِ.

Jika Anda pergi mengubah dari apa yang mereka kenal menjadi apa yang tidak mereka kenal, mereka akan menganggapnya kufur. Akan tetapi, akuilah setiap negeri atas ilmu yang ada pada penduduknya masing-masing. (Al-Jarh wa At-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, hlm 29).
✅ Sikap Ibnu Abdil Bar rahimahullah

Ibnu Abdil Bar mengemukakan alasan mengapa ia mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya dalam melakukan syarah terhadap kitab Al-Muwatha karya Al-Imam Malik rahimahullah:

إِنَّمَا اعْتَمَدْتُ عَلَى رِوَايَةِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى خَاصَّةً لِمَوْضِعِهِ عِنْدَ أَهْلِ بَلَدِنَا مِنَ الثِّقَةِ وَالدِّينِ وَالفَضْلِ وَالعِلْمِ وَالفَهْمِ، وَلِكَثْرَةِ اسْتِعْمَالِهِمْ لِرِوَايَتِهِ، وِرَاثَةً عَنْ شُيُوخِهِمْ وَعُلَمَائِهِمْ، فَكُلُّ قَوْمٍ يَنْبَغِي لَهُمُ امْتِثَالُ طَرِيقِ سَلَفِهِمْ فِيمَا سَبَقَ لَهُمْ مِنَ الخَيْرِ، وَسُلُوكُ مِنْهَاجِهِمْ فِيمَا احْتَمَلُوهُ عَلَيْهِ مِنَ البِرِّ، وَإِنْ كَانَ غَيْرُهُ مُبَاحاً مَرْغُوباً فِيهِ. 

Yang membuat aku mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya secara khusus adalah karena posisi beliau yang terhormat di mata penduduk negeri kami dari sisi kepercayaan mereka terhadapnya, keagamaan, kelebihan, ilmu, dan pemahaman beliau. Juga karena para penduduk banyak menggunakan riwayatnya sebagai warisan dari para syaikh dan ulama mereka. Maka setiap kaum hendaklah mempraktekkan cara pendahulu mereka yang baik dan menempuh metode kebajikan yang telah mereka bawa selama ini, meskipun cara dan metode yang lain boleh atau menarik. (At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 1/10).
✅ Sikap Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Hasyim rahimahullah, guru Ibnu Abdil Bar

Dalam masalah mengangkat tangan saat berpindah gerakan dalam shalat, madzhab Maliki dari riwayat Ibnu Al-Qasim rahimahullah adalah tidak mengangkat tangan sama sekali kecuali saat takbiratul ihram, berdasarkan riwayat dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Sementara mengangkat tangan berdasarkan riwayat Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Abu Umar Ahmad bin Abdullah memuji gurunya yaitu Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim rahimahullah yang mengangkat tangan tidak hanya saat takbiratul ihram karena mengikuti hadits riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Namun, ketika Ibnu ‘Abdil Bar bertanya kepada gurunya mengapa beliau tidak mengangkat tangan seperti “kakek gurunya” sesuai hadits Ibnu Umar? Sang guru menjawab:

لَا أُخَالِفُ رِوَايَةَ ابْنِ القَاسِمِ؛ لِأَنَّ الجَمَاعَةَ عِنْدَنَا اليَوْمَ عَلَيْهَا، وَمُخَالَفَةُ الجَمَاعَةِ فِيمَا قَدْ أُبِيحَ لَنَا لَيْسَ مِنْ شِيَمِ الأَئِمَّةِ 

Aku tidak akan menyalahi riwayat Ibnu Al-Qasim, alasannya karena jamaah (masyarakat) hari ini mengikuti beliau. Dan menyalahi jamaah dalam hal yang kita telah diperbolehkan mengamalkannya (maksudnya dalam maslah furu’) bukanlah sikap para imam. (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Bar, 1/408-409).
✅ Sikap Ibnu Taimiyah rahimahullah

Ketika membahas bacaan basmalah dalam Al-fatihah di dalam shalat, apakah dibaca keras atau tidak dst .. Ibnu Taimiyah menyelingi dengan satu adab fiqih dengan menyatakan:

وَيُسْتَحَبُّ لِلرَّجُلِ أَنْ يَقْصِدَ إِلَى تَأْلِيفِ هَذِهِ الْقُلُوبِ بِتَرْكِ هَذِهِ الْمُسْتَحَبَّاتِ؛ لِأَنَّ مَصْلَحَةَ التَّأْلِيفِ فِي الدِّينِ أَعْظَمُ مِنْ مَصْلَحَةِ فِعْلِ مِثْلِ هَذَا 

Disukai bagi seorang (imam) untuk menyengaja mengakrabkan hati (mayoritas jamaah) dengan meninggalkan (yang ia yakini mustahab/sunnah), karena maslahat keakraban (ukhuwah) di dalam agama ini lebih agung dari pada maslahat melakukan hal seperti ini (yang mustahab tsb). (Al-Qawa’id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah, hlm 46).

Dari ucapan dan sikap para ulama besar yang teramat memahami Al-Quran dan Hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa madzhab atau pendapat mayoritas masyarakat dalam hal-hal yang tidak sesat, atau dalam hal yang memang diperbolehkan terjadi perbedaan pendapat lalu mayoritas masyarakat menganut salah satu diantaranya, maka sikap yang baik adalah menghormati mereka.
🎯 Prinsipnya adalah:

عَدَمُ التَّشْوِيشِ عَلَى النَّاسِ وَإِثَارَةِ الفِتْنَةِ بَيْنَهُمْ

Tidak mengganggu ketenangan masyarakat dan tidak memancing kegaduhan di tengah masyarakat.

Ini adalah prinsip umum yang harus didahulukan dari maslahat mengamalkan perbuatan yang kita anggap sunnah atau mustahab namun masyarakat tidak memahaminya atau membutuhkan waktu untuk memahaminya.

✅ Prinsip ini diambil dari sikap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak memugar Ka’bah sesuai bangunan Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau membiarkannya karena jika dilakukan pemugaran akan memancing kegaduhan masyarakat Quraisy. Beliau bersabda kepada ‘Aisyah radhiyallau ‘anha:

«يَا عَائِشَةُ، لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ – بِكُفْرٍ – لَنَقَضْتُ الْكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ بَابٌ يَدْخُلُ النَّاسُ، وَبَابٌ يَخْرُجُونَ» (رواه البخاري ومسلم)

Wahai Aisyah, kalau bukan karena kaummu belum lama kafir, pasti telah kuubah Kabah, aku jadikan dua pintu, satu pintu untuk orang-orang masuk, satu pintu untuk mereka keluar. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

✅ Juga dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أتُحِبُّونَ أنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُولُهُ ؟!

Bicaralah kepada masyarakat dengan hal yang mereka kenal (mereka mudah memahami), apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?! (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya).
Ungkapan beliau “apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?!” menunjukkan bahwa meskipun yang kita sampaikan adalah ayat Al-Quran atau Hadits Rasul yang tentu saja baik, namun jika hal itu belum dapat dimengerti oleh masyarakat, atau perlu waktu bagi mereka untuk memahaminya, maka hendaklah kita hindari, paling tidak bertahap menyampaikannya. Karena bila kita sembrono, mungkin yang terjadi adalah ayat atau hadits itu didustakan.
Membiarkan masyarakat mengamalkan amalan dari madzhab yang mu’tabar akan membuat potensi para da’i dan pemimpin lebih fokus dalam membangun hal-hal lain yang diperlukan oleh ummat. 

Channel Telegram Ilmu SYARIAH : @ilmusyariah / bit.ly/1RF5IPk

KEUTAMAAN DAN HIKMAH HAJI & UMRAH

A.    KEUTAMAAN HAJI & UMRAH

  1. Ibadah haji adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh orang muslim yang mampu. Dan perbuatan yang wajib adalah perbuatan yang paling dicintai Allah SWT. “Tidak ada perbuatan yang paling Aku cintai melainkan yang telah Aku wajibkan”, jadi haji dan umrah adalah salah satu ibadah yang paling dicintai Allah SWT.
  2. Ibadah haji merupakan perbuatan yang paling afdhol setelah iman dan jihad.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW pernah ditanya : Perbuatan apakah yang paling afdhol (utama)?, Beliau menjawab : Iman kepada Allah dan RasulNya. Kemudian apalagi ?, jihad di jalan Allah. Kemudian apalagi ?, Beliau menjawab : haji mabrur.

Bahkan bagi wanita ibadah haji nilainya sama dengan jihad di jalan Allah, karena jihadnya wanita adalah ibadah haji.

  1. Haji dan umrah balasannya ampunan dosa dan syurga.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi bersabda : Ibadah umrah ke umrah berikutnya dapat menghapus dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga (Riwayat Jamaah kecuali Abu Daud).

  1. Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah yang mulia.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi bersabda : Orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu Allah, apabila mereka berdo’a kepadaNya akan dikabulkan, dan apabila mereka memohon ampunan kepadaNya, dosa mereka akan diampuni (HR. Nasai dan Ibn Najah).

B. KEUTAMAAN DAN MANFAAT HAJI & UMRAH

Ibadah haji dan umrah banyak sekali hikmah dan manfaatnya, diantaranya adalah :

  1. Menghapus dosa-dosa dan mensucikan jiwa sehingga dapat meningkatkan keikhlasan dalam beribadah.
  2. Dengan menghayati ritual dan bacaan-bacaan haji dan umrah, terutama bacaan kalimat talbiah, akan memperbaharui semangat komitmen keislaman.
  3. Haji dapat meningkatkan keimanan, menyadarkan tentang arti hidup yang sesungguhnya sehingga akan meningkatkan kesadaran dalam membekali diri dengan memperbanyak ibadah dan amal shaleh.
  4. Haji mengingatkan kita tentang pentingnya pengorbanan, kepatuhan, dan ketaatan kepada Allah SWT serta pentingnya perjuangan membela dan menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, para Nabi dan Rasul berikutnya sampai kepada Rasulullah SAW.
  5. Haji melatih kesabaran dan kesederhanaan dalam hidup.
  6. Haji sebagai wujud syukur atas nikmat Allah yang begitu banyak diberikan kepada kita, baik nikmat harta, nikmat sehat, nikmat iman dan berbagai nikmat yang lainnya.
  7. Haji mengingatkan dan menyadarkan kepada kita tentang kesamaan, persaudaraan sesama muslim, dan kedhoifan manusia dihadapan Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa.
  8. Haji mengingatkan tentang persatuan dan kekuatan ummat islam, baik kesatuan aqidah, kesatuan ibadah, kesatuan langkah, dan kesatuan tujuan hidup.

Dan masih banyak lagi manfaat-manfaat yang lain yang dapat anda rasakan sendiri ketika melaksanakan ibadah haji dan umrah ini secara benar.

Fiqh Sholat

1: Hukum Sholat, Hikmah Sholat, dan Keutamaan Shalat
Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairiy

A. Hukum Sholat
Shalat itu wajib bagi semua umat Islam. Karena Allah Ta’ala telah memerintahkannya pada beberapa ayat dalam Al-Quran:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“…Maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu (wajib) yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman,” (QS An-Nisa: 103).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berfirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk,” (QS Al-Baqarah: 238).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjadikan shalat sebagai pondasi kedua dari lima pondasi Islam.

Beliau bersabda:

Islam itu didirikan atas lima perkara: (1) Bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah; (2) Mendirikan shalat; (3) Menunaikan Zakat; (4) Mengerjakan haji ke Baitullah; dan (5) Berpuasa pada bulan Ramadhan,” (HR Al-Bukhari: 1/9, dan Muslim: 20, 21, Kitab Al-Iman).

Hukum orang yang tidak mengerjakan sholat secara syar’i diancam hukuman mati. Adapun orang yang meremehkan shalat, masuk dalam kategori fasik.

B. Hikmah Sholat
Sebagian hikmah disyariatkannya shalat adalah bahwa shalat itu dapat membersihkan jiwa, dapat menyucikannya, dan menjadikan seorang hamba layak bermunajat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dunia dan berada dekat dengan-Nya di surga. Bahkan shalat juga dapat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“…Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar…” (Al-Ankabut: 45).

C. Keutamaan Sholat 
Untuk mengetahui keutamaan dan keagungan shalat, cukuplah kita membaca hadist-hadist Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam berikut:

1. Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Pokok terpenting dari segala perkara adalah Islam, dan tiangnya adalah shalat, serta puncak tertingginya adalah jihad di jalan Allah,” (HR Tirmidzi: 616).

2. Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat,” (HR Muslim: 134, Kitab Al-Iman).

3. Beliau Shalallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya, maka mereka telah menlindungi harta dan jiwanya dariku kecuali karena hak Islam, dan hisab (perhitungan) amal mereka diserahkan kepada Allah Azza Wa Jalla,” (HR Al-Bukhari: 1/13, 9/138).

4. Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam ketika ditanya tentang amalan apa yang paling utama, beliau menjawab:

Mengerjakan shalat pada (awal) waktunya,” (HR Muslim: 36, Kitab Al-Iman).

5. Sabda beliau:

Perumpamaan sholat lima waktu ibarat sebuah sungai tawar yang deras yang ada di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian, yang ia mandi di dalamnya sebanyak lima kali setiap hari, maka apakah kaliah melihat adanya kotoran yang tersisa padanya?” Para sahabat berkata, “Tidak ada sedikitpun.” Beliau melanjutkan, “Sesungguhnya shalat lima waktu itu dapat menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air dapat menghilangkan kotoran,” (HR Muslim: 284, Kitab Al-Masajid).

6. Sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

“Tidaklah seorang muslim yang ketika tiba waktu shalat fardhu dia membaguskan wudhunya dan kekhusyukannya serta rukuknya melainkan shalat itu menjadi penghapus dosa-dosanya yang telah lewat, selama dia tidak berbuat dosa besar, dan itu sepanjang masa,” (HR Muslim: 7, Kitab Ath-Thaharah, dan Imam Ahmad: 5/260). Wallahu’alam bish shawwab.

 

Jenis atau Macam-macam Sholat

A. Shalat Fardhu

Sholat-sholat fardhu adalah shalat lima waktu, yaitu: Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh.

Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Allah telah mewajibkan shalat lima waktu bagi hamba-hamba-Nya, bagi siapa yang mentaatinya dan tidak mengabaikan kewajibannya juga tidak menganggapnya temeh, maka baginya ada perjanjian di sisi Allah untuk masuk surga, sedangkan bagi mereka yang tidak mentaatinya, maka tidak ada perjanjuan tersebut. Jika Allah menghendaki akan menyiksanya, dan jika Allah menghendaki akan mengampuninya,” (HR Imam Ahmad: 5/315, 319, Abu Daud: 1420, dan An-Nasa’i: 1/230).

B. Shalat Sunnah

Yang tergolong shalat sunnah adalah shalat witir, sholat sunnah sebelum subuh (sholat fajar), sholat Idul Fitri dan Idul Adha, sholat khusuf, dan sholat istisqa. Semua ini adalah shalat sunnah muakkadah (yang ditekankan/ sangat dianjurkan).

Adapun sholat sunnah tahiyatul masjid, sholat sunnah rawatib (sebelum dan sesudah sholat fardhu/ wajib), sholat sunnah dua rekaat setelah berwudhu, sholat dhuha, sholat tarawih, dan sholat malam, tergolong ini adalah shalat sunnah ghairu muakkadah.

C. Shalat Nafilah (Tambahan)

Shalat nafilah adalah shalat selain sh0lat sunnah muakkadah dan ghairu muakkadah, seperti shalat sunnah mutlak pada malam hari atau siang hari.

 

3 – Syarat-Syarat dalam Sholat

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi , Fiqih Islam , Minhajul Muslim , Sholat

Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir AL-Jazairiy
A. Syarat-syarat Wajib dalam Sholat

1. Islam 
Dengan syarat ini, maka orang kafir tidak wajib mengerjakan sholat, karena mendahulukan dua kalimat syahadat adalah syarat dalam perintah wajib shalat.

Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

Aku telah diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat.”

Dan juga sabda beliau Shalallahu’alaihi Wasallam kepada Mu’adz:

Maka ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, jika mereka mematuhimu akan hal itu maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap hari, siang dan malam,” (HR An-Nasa’i: 5/3).

2. Berakal
Orang gila tidak terbebani kewajiban sholat, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Pena (pencatat amalan) itu diangkat dari tiga orang; orang tidur sampai dia bangun, anak kecil sampai berusia baligh, dan dari orang gila sampai dia berakal,” (HR Abu Daud: 5398, 4400).

3. Baligh
Anak-anak tidak terbebani kewajiban shalat sampai menginjak usia baligh. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam, “Dan anak kecil sampai berusia baligh.”

Namun, sebagai ajang latihan, mereka tetap diperintahkan untuk mengerjakannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau menunaikannya ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidurn mereka,” (HR Abu Daud: 26 dan Ibnu Majah: 275, 276).

4. Masuk Waktunya

Sholat tidak wajib ditunaikan sampai waktunya tiba. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman,” (QS An-Nisa: 103).

Artinya, shalat itu mempunyai waktu tertentu. Sebagaimana Jibril pernah turun, lalu mengajarkan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam tentang waktu-waktu shalat.

Jibril berkata kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Lalu beliau mengerjakan shalat dzuhur ketika matahari mulai tergelincir ke sebelah barat.

Kemudian tiba waktu ashar, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam mengerjakan shalat ashar ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya sama.

Selanjutnya tibalah waktu maghrib, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Kemudian beliau mengerjakan shalat maghrib ketika matahari telah terbenam.

Kemudian datanglah waktu shalat isya’ lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Kemudian Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam berdiri dan mengerjakan shalat isya ketika sinar merah matahari saat terbenam telah lenyap.

Lalu datang waktu subuh ketika fajar telah terbit, kemudian datang waktu dzuhur pada hari berikutnya, lalu Jibril berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat.” Lalu Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam mengerjakan shalat dzuhur ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya sama.

Kemudian tibalah waktu ashar lalu dia berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat,” lalu beliau mengerjakan shalat ashar ketika bayangan segala sesuatu itu panjangnya dua kali lipat, kemudian datang waktu maghrib, satu waktu masih tetap sama dengan sebelumnya, kemudian datang waktu isya ketika seperdua malam telah lewat atau sepertiga malam, lalu beliau mengerjakan shalat isya’ kemudian dia mendatanginya ketika fajar sangat kuning lalu berkata, “Berdirilah dan kerjakan shalat,” lalu beliau mengerjakan shalat subuh, kemudian beliau berkata, “Antara dua inilah waktunya,” (HR An-Nasa’i: 1/263, dan Imam Ahmad: 3/ 113, 182).

5. Suci dari darah haid (menstruasi) dan nifas
Dengan demikian, wanita yang sedang haid (menstruasi dan wanita yang nifas tidak terbebani kewajiban shalat sampai suci. Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Apabila kamu datang bulan (haid/ menstruasi), maka tinggalkanlah shalat,” (HR Al-Bukhari: 1/84, 87, Muslim: 62, Kitab Al-Haidh, dan Abu Daud Kitab Ath-Thaharah).

B. Syarat-syarat sahnya shalat

Adapun syarat-syarat sahnya shalat adalah sebagai berikut:

1. Suci dari hadats kecil,
 yaitu hal yang mewajibkan berwudhu, suci dari hadats besar, yaitu hal yang mewajibkan mandi besar dan suci dari najis pada pakaian orang yang mengerjakan shalat, tubuhnya, dan tempat shalatnya.

Berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci,” (HR An-Nasa’i: 1/87, dan Ad-Darimi: 1/175).

2. Menutup Aurat
Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid…” (Al-A’raaf: 31).

Tidak sah shalat seseorang yang dikerjakan dengan membuka aurat karena fungsi pakaian adalah untuk menutupi aurat.

Adapun batasan aurat bagi laki-laki yaitu antara pusar dan kedua lututnya, sedangkan batasan aurat bagi perempuan yaitu seluruh anggota tubuh selain muka dan kedua telapak tangannya.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam:

Allah tidak menerima shalat perempuan yang sudah mengalami haid (menstruasi atau baligh) kecuali dengan memakai jilbab,” (HR Abu Daud: 641).

Ketika Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam ditanya perihal shalat perempuan dengan memakai Ad-Dir’u (pakaian yang dapat menutupi seluruh tubuh wanita) dan kerudung tanpa memakai pakaian bawahan (rok/ sarung), beliau menjawab:

Jika pakaian (gamis) itu panjang dan dapat menutupi bagian luar kedua telapak kakinya (itu boleh),” (HR Abu Daud: 640, dan Ad-Daruquthni: 2/62).

3. Menghadap Kiblat
Tidak sah shalat yang dikerjakan tidak menghadap kiblat. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“…Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” (QS Al-Baqarah: 144).

Maksudnya, menghadap ke Masjidil Haram di Mekkah. Namun orang yang tidak bisa menghadap kiblat karena kondisi takut, atau sakit, atau lainnya, maka syarat ini tidak berlaku.

Orang yang sedang melakukan perjalanan boleh mengerjakan shalat di atas kendaraannya sesuai arah jalan yang dituju baik kiblat atau menghadap selainnya.

Berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

Rasulullah pernah mengerjakan shalat di atas kendaraannya (untanya), sedangkan beliau ketika itu datang dari Mekkah menuju Madinah, dengan menghadap ke arah mana saja kendaraannya itu berjalan,” (HR Muslim: 33, kitab Shalatul Musafirin wa Qashruha).

 

4 – Hal-hal (Rukun) Yang Wajib Dalam Sholat

Materi kali ini membahas tentang hal-hal yang wajib dalam shalat. Hal-hal yang musti dilakukan (wajib) dalam shalat antara lain:

 

  1. Berdiri ketika shalat wajib, bagi yang mampu

Tidak sah shalat fardhu seorang hamba yang dikerjakan sambil duduk dalam kondisi mampu berdiri. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk,” (Al-Baqarah: 238).

 

Dan sabda Rasulullah kepada Imran bin Hushain:

 

“Kerjakanlah shalat dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka kerjakanlah dengan posisi duduk, jika tidak mampu juga, maka kerjakanlah dengan posisi berbaring,” (HR Bukhari: 1117, dan Abu Daud: 952).

 

  1. Niat

Yaitu ketetapan hati untuk melaksanakan shalat tertentu. Berdasarkan sabda Rasulullah:

 

Sesungguhnya segala amalan itu (tergantung) dengan niat…” (Baca “Penjelasan Hadist Setiap Amal Tergantung dengan Niatnya” oleh Sheikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin).

 

  1. Takbiratul Ihram

Yaitu mengucapkan lafadz “Allahu Akbar.” Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah:

 

Kuncinya shalat adalah bersuci, pembukaannya adalah takbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan penutupnya adalah taslim (mengucapkan salam),” (HR Abu Daud: 31, Kitab Ath-Taharah, dan At-Tirmidzi: 238).

 

  1. Membaca Surat Al-Fatihah

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

 

Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah,” (HR Bukhari: 1/192).

 

Namun, membaca Al-Fatihah itu tidak berlaku bagi seorang makmum di balakang imam yang membaca Al-Fatihah dengan jahr (keras, nyaring), karena kewajibannya adalah mendengarkan bacaan imam.

 

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 

“Dan apabila dibacakan Al-Quran, dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat,” (QS Al-A’raf: 204).

 

Dan sabda Rasulullah:

 

Apabila imam bertakbir, maka ikutlah bertakbir, dan apabila dia membaca maka diamlah (perhatikanlah),” (HR Imam Ahmad: 2/438).

 

Apabila imam membacanya dengan Siir (pelan), maka makmum wajib membacanya (secara siir atau pelan) juga.

 

  1. Rukuk

 

  1. Bangun dari rukuk (I’tidal)

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam:

 

Kemudian rukuklah sampai kamu tuma’ninah dalam rukuk, kemudian bangunlah dari rukuk sampai kamu berdiri tegak lurus,” (HR Bukhari: 8/69, 169).

 

  1. Sujud

 

  1. Bangun dari Sujud

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam kepada orang yang shalatnya tidak benar:

 

Kemudian bersujudlah sampai kamu tuman’ninah dalam sujudmu, kemudian bangunlah dari sujud sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan duduk,” (HR Bukhari: 8/69, 169).

 

Hal ini juga didasarkan pada firman Allah Ta’ala:

 

Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu…” (QS Al-Hajj: 77).

 

  1. Tuman’ninah ketika Rukuk, Sujud, Berdiri, dan Duduk

 

Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam kepada orang yang shalatnya tidak benar. Beliau menyebutkan hal itu kepadanya dalam hal rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud, sedangkan beliau menyebutkan i’tidal (tegak lurus) kepadanya dalam hal berdiri.

 

Hakikat tuma’ninah adalah seseorang yang melakukan rukuk, sujud, duduk diantara dua sujud, dan berdiri setelah semua anggota badannya tegak lurus, itu berdiam kira-kira seukuran lama membaca, “Subhana Rabbiyal Adziim” (Mahasuci Rabbku yang Mahaagung). Sebanyak satu kali bacaan. Adapun jika lebih dari satu kali, maka itu adalah sunnah.

 

  1. Salam

 

  1. Duduk ketika salam

Seseorang dianggap selesai mengerjakan shalat setelah mengucapkan salam dan dia tidak mengucapkan salam kecuali dalam kondisi duduk. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam, “Dan penutupnya adalah taslim (mengucapkan salam).”

 

  1. Tertib sesuai urutan rukun shalat

Tidak boleh membaca Al-Fatihah sebelum melakukan takbiratul ihram, dan tidak boleh bersujud sebelum melakukan rukuk karena gerakan shalat telah ditentukan Rasulullah dan telah diajarkan kepada para sahabat.

 

Beliau bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat,” (HR Bukhari: 1/68, 8/11).

 

Maka tidak sah mendahulukan dan mengakhirkan urutan gerakan shalat. Wallahu’alam bish shawwab.