Rahmat Allah Menuntun Kita Sampai di Sini

Dari dan seizin ustadz Lili Nur Aulia

–  Di jalan ini, kita melangkah untuk meraih surga Allah swt. Surga yang luasnya melebihi keluasan langit dan bumi. 

–  Prinsip kita  dalam hal ini seperti ungkapan seorang penyair,  _man yakhthub al hasnaa, lam yaghullaha  mahru_, tak ada yang dianggap mahal bagi seorang pria yang ingin meminang gadis pilihannya.

–   Kita  ingin meminang surga yang menjadi bagian dari rangkaian mimpi-mimpi kita. Kita  ingin memperoleh ridha-Nya, cinta-Nya, yang menyebabkan kemenangan bagi kita  di dunia dan akhirat.

–   Kita  harus merasakan keberatan demi mencapai keinginan itu.

–  Ibnul Qayyim rahimahullahmengatakan

ﻓﻼ ﻓﺮﺣﺔ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻫﻢّ ﻟﻪ ، ﻭﻻ ﻟﺬّﺓ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺻﺒﺮ ﻟﻪ , ﻭﻻ

ﻧﻌﻴﻢ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺷﻘﺎﺀ ﻟﻪ , ﻭﻻ ﺭﺍﺣﺔ ﻟﻤﻦ ﻻ ﺗﻌﺐ ﻟﻪ

“Takada kesenangan bagi orang yang tak memiliki obsesi untuk senang. Tak ada kelezatan bagi orang yang tak bersabar memperolehnya. Tak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mau berkorban untuk kenikmatan, tidak ada istirahat bagi orang yang tak mau berletih-letih untuk istirahat.“

–   Seperti juga dikatakan oleh Al Mutanabbi:

وإذا كانت النفوس كباراً

 تعبت في مرادها الأجسام

_Jika jiwa telah menjadi besar. Letih jasad mengikuti inginnya_

–    Seseorang bertanya, “Kapankah seorang da’i akan banyak tidur dan istirahat? Jika ia beristirahat atau tidur di siang hari, itu pertanda ia menyia-nyiakan orang-orang yang akan menjadi pendukung dakwahnya, orang-orang yang ia cintai, orang-orang yang ada dalam bimbingannya. Dan bila ia tidur di malam hari, itu berarti ia menyia-nyiakan dirinya.“

–   Ketika Allah swt memberi petunjuk kepada kita untuk menemui jalan ini. Ketika Allah swt menempatkan kita  berada di antara barisan para penyeru dakwah kepada-Nya.

–  Ketika itulah sesungguhnya kita  telah memilih jalan yang meletihkan. Ketika itulah sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak istirahat, tidak membiarkan terlalu banyak senda gurau dalam hal mubah sekalipun.

–  Itulah yang dikatakan juga oleh salah seorang salafushalih, ketika ia ditanya, “Apa yang bisa mengurangi tekad seseorang?“ Ia menjawab, “Panjang angan-angan, dan gemar istirahat.“  (Al Masaar, Muhammad Ahmad Ar Rasyid/ 165)

–  Ada ilustrasi lain yang diuraikan Ahmad Ar Rasyid, “Seorang da’i menolak duduk apalagi beristirahat lama-lama. Jika ia pulang ke rumahnya tengah malam, dan melihat debu di tubuhnya, tersungging senyuman di wajahnya, gembira hatinya. Berkata ia pada jiwanya, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah akan haramkan dia dari neraka.“ Selanjutnya ia akan tertidur dengan hati bahagia karena debu-debu yang diperolehnya selama perjalanan dakwah. Sementara orang lain tidur gembira dengan kekayaannya yang disimpan di bank-bank.“ (Bawariq da’wiyah/91)

–  Bukan berarti kita tidak boleh istirahat ya. Sebab kita  berada di jalan ini karena rahmat Allah swt. Rahmat Allah itu juga yang menuntun kita  hingga sampai di jalan ini dan bertemu di sini. Dan jalan ini sendiri adalah jalan yang penuh dengan hamparan rahmat Allah swt.  

–   Tarik nafas dalam-dalam. Pejamkan mata. Lepaskan nafas seiring ucapan tasbih, tahmid, takbir, tahlil.

#menghiburuntukyanglagiletihmeskitidakberdebu 🙂

Suara Hati; Dan Katakanlah Bekerjalah Kalian..!!

Segala puji hanya milik Allah dan shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya…

Allah SWT berfirman: “Dan bekerjalah kalian, niscaya Allah akan melihat perbuatan kalian, dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (At-Taubah:105); maksudnya adalah bahwa perbuatan kalian tidak dapat disembunyikan dihadapan Allah dan dihadapan Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman, dan barangsiapa yang menyadari bahwa perbuatannya tidak dapat disembunyikan maka dirinya akan termotivasi dan senang melakukan perbuatan baik, menjauhi perbuatan jahat, memiliki semangat tinggi disertai dengan ikhlas karena Allah, karena itu semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas jika bersatu maka akan mencapai tujuan yang diinginkan… Allah SWT berfirman: “Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. (Muhammad:21)

Risalah yang agung harus diiringi dengan semangat yang tinggi…

Wahai Ikhwan…

Demikianlah seruan Allah kepada kalian dan umat manusia seluruhnya, dan kalian lebih utama untuk bersegera melakukan ketaatan; karena kalian memiliki tugas membawa risalah yang agung ini… risalah nabi Muhammad saw yang juga membawa kebaikan untuk seluruh dunia, dan yang tidak mungkin dapat mencapai tujuan yang hakiki kecuali oleh para dua yang berpegang teguh pada agama dengan kuat, siap menanggung beban risalah dengan penuh kesungguhan dan azam. Allah berfirman: “Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh “. (Maryam:12) “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; Maka (kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh”. (Al-A’raf:145) dan firman Allah: “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu “. (Al-Baqarah:63)

Karena itu berpegang teguh pada kitab ini dan membawa risalah ini membutuhkan adanya perasaan akan tanggungjawab yang besar, azimah yang kuat dan keteguhan yang kokoh, yang tidak akan mampu dibawanya kecuali orang-orang mulia pilihan dan siap berjuang dan berkorban…ustadz imam Hasan Al-Banna rahimahullah berkata kepada pemuda pengemban dakwah:

“إِنَّمَا تَنْجَحُ الْفِكْرَةُ إِذَا قَوِيَ الإِيْمَانُ بِهَا، وَتَوَفَّرّ الإِخْلاَصُ فِي سَبِيْلِهَا، وَازْدَادَتْ الْحَمَاسَةُ لَهَا، وَوُجِدَ الاسْتِعْدَادُ الَّذِي يَحْمِلَ عَلىَ التَّضْحِيَةِ وَالْعَمَلُ لِتَحْقِيْقِهَا“.

“Keberhasilan ideologi itu hanya akan tercapai jika keimanan yang kokoh dengannya, keikhlasan yang penuh di jalannya, meningkat terus semangat untuknya dan terdapat kesiapan diri untuk berkorban dan bekerja untuk mewujudkannya”.

Kalian adalah pilihan umat ini…

Rasulullah saw bersabda:

تَجِدُونَ النَّاسَ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لاَ يَجِدُ الرَّجُلُ فِيهَا رَاحِلَةً

“Kalian menemukan di tengah umat manusia seperti 100 unta, tidak seorangpun yang mendapatkan unta pilihan”. Dalam riwayat lain disebutkan:

لاَ تَكَادُ تَجِدُ فِيهَا رَاحِلَةً

“Hampir saja tidak ditemukan di dalamnya unta pilihan”. (Syaikhani).

Dan makna rahilah adalah unta yang bagus kuat mampu membawa beban berat dan perjalanan yang panjang, indah dilihat dan bentuk yang menakjubkan, dan yang demikian sangatlah jarang, begitu pula manusia yang produktif yang mampu membawa beban dan tanggung, membawa beban berat dan pengorbanan untuk mewujudkan tujuan yang mulia; mereka sangatlah sedikit, bahkan hampir sulit ditemukan dari setiap 100 orang salah seorang dari mereka. Nabi saw bersabda:

لاَ نَعْلَمُ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ مِائَةٍ مِثْلِهِ إِلَّا الرَّجُلَ الْمُؤْمِنَ

“Kami tidak mendapatkan sesuatu kebaikan dari seratus orang yang serupa kecuali seseorang yang beriman”. (Ahmad) dan dalam riwayat lain

لا نَعْلَمُ شَيْئًا خَيْرًا مِنْ أَلْفٍ مِثْلِهُ إِلَّا الرَّجُلَ الْمُؤْمِنَ

“Kamu tidak akan mendapatkan sesuatu kebaikan dari seribu orang yang sama kecuali seseorang yang beriman”. (Thabrani),

dan dengan seperti inilah disempurnakan proses tarbiyah dalam dakwah kalian, wahai ikhwan kalian bukan bagian dari mereka yang disampaikan di dalamnya

إنّي لأفتَحُ عَينِيَ حِينَ أفتَحُها        عَلَى كَثِيرٍ ولكن لا أرى أحَدا

Sungguh saya akan membuka kedua mata saya saat saya akan membukanya, Pada khalayak ramai namun saya tidak mendapatkan seorangpun.

Bahkan kalian mengerahkan jiwa kalian untuk melakukan peran yang besar dalam memberikan pelayanan pada agama dan umat, kalian bangkit dengannya, dan membangkitkan umat bersama kalian, karena itulah imam Syahid berkata:

وَمِنْ هُنَا كَثُرَتْ وَاجِبَاتُكُمْ، وَمِنْ هُنَا عَظُمَتْ تَبَعَاتُكُمْ، وَمِنْ هُنَا تَضَاعَفَتْ حُقُوْقُ أُمَّتِكُمْ عَلَيْكُمْ، وَمِنْ هُنَا ثقُلَتْ الأَمَانَةُ فِي أَعْنَاقِكُمْ، وَمِنْ هُنَا وَجَبَ عَلَيْكُمْ أَنْ تُفَكِّرُوْا طَوِيْلاً، وَأَنْ تَعْمَلُوْا كَثِيْرًا، وَأَنْ تُحَدِّدُوْا مَوْقِفَكُمْ، وَأَنْ تَتَقَدَّمُوْا لِلإِنْقَاذِ، وَأَنْ تُعْطُوا الأمَّةَ حَقَّهَا كَامِلاً مِنْ هَذَا الشَّبَابِ

“Dari sinilah tampak kewajiban kalian begitu banyak, begitu berat beban atas kalian, begitu banyak hak-hak umat atas kalian, begitu berat amanah yang dipikulkan di pundak kalian, karena itu wajib atas kalian untuk berfikir panjang, bekerja lebih banyak, menentukan sikap, maju ke depan untuk melakukan penyelamatan, memberikan umat hak mereka secara sempurna dari para pemuda ini”.

Janganlah menjadi plin-plan

Wahai ikhwan, sesungguhnya gamblangnya misi kalian, mulianya tujuan kalian dan tingginya visi-visi kalian, dan memberikan pemahaman kepada kalian untuk kebutuhan dunia pada dakwah kalian untuk bersegera memperbaharui azam kalian dan menampilkan potensi kalian, mendorong kalian untuk berada di shaf terdepan bersama para reformis, mencegah kalian bermalas-malasan dan futur, canggung dan ragu atau memiliki karakter mengekor, demikianlah nabi saw mengingatkan:

لاَ تَكُونُوا إِمَّعَةً، تَقُولُونَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوا أَنْفُسَكُمْ؛ إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوا، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلاَ تَظْلِمُوا

“Janganlah menjadi orang yang plin-plan, dengan berkata: Jika manusia baik kami akan ikut baik, jika mereka zhalim kamipun akan ikut zhalim, namun teguhkanlah pendirian kalian; jika manusia baik maka berbuatlah lebih baik, dan jika mereka berbuat jahat maka jangan ikut melakukannya”. (Tirmidzi)

Al-akh ust. AL-Bahi Al-Khuli berkata: “Bahwa seorang da’i wajib merasakan bahwa dakwahnya hidup dalam persendiannya, bergelora di dalam hatinya, mengalir pada aliran darahnya, sehingga mampu merubah dari sikap santai dan malas pada gerak dan kerja, menyibukkan diri  dalam jiwanya, anaknya dan hartanya, demikianlah seorang da’i yang jujur yang merasakan keimanan pada dakwah dalam pandangan, gerak dan petunjuk, dalam bentuk yang bercampur dengan air wajahnya”.

Dari titik tolak ini saya ingin menyeru kalian –wahai ikhwah yang tercinta- pada silsilah (rangkaian) dari (suara hati) saya mengingatkan kalian dan diri saya sendiri yang di dalamnya ada kewajiban kita yang terbesar dan misi kita yang mulia, untuk membangkitkan kembali semangat kita, menggerakkan kembali azam kita, meninggalkan kemalasan dan futur, menjadikan segala perkara Allah untuk kita, dan berprasangka baik pada umat bagi kita, tidak menjadikan kewajiban dan dakwah banyak permusuhan dan penopang kekuatan jahat.

Saya sangat yakin bahwa jika kita mampu merealisir kekuatan maka kelak Allah akan memberikan kemenangan dan mewujudkan cita-cita. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang Mengadakan perbaikan”. (Al-A’raf:170)

Renungkanlah akhi yang mulia apa yang difirmankan Allah “Orang-orang yang berpegang teguh” sebagai petunjuk akan kekuatan, semangat, azam, kesungguhan, motivasi dalam mengambil kita..!

Sampai jumpa lagi pada pertemuan “Suara hati” saya memohon kepada Allah yang tidak pernah menyiapkan titipan kepada-Nya.

Allahu Akbar

Dan segala puji hanya milik Allah.

Muhammad Mahdi Akif

KARYA KEPATUTAN KITA

ADAKAH MOMEN MAHAL SEBAGAI KARYA KEPATUTAN KITA???

روى الحاكم في المستدرك على الصحيحين قال : قال رسول الله يوم الخندق بعد ان قتل علي عمرو بن عبدود لضربت علي يوم الخندق خير من عبادة الثقلين الى يوم القيامة

 

Diriwayatkan oleh Imam Al Hakim Dalam Kitabnya Al Mustadrak yang dishahihkan Imam Bukhari dan Muslim, dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda pada hari Pertempuran Khandaq setelah terbunuhnya Amr bin Abdi Wud: “Sesungguhnya tebasan pedang Ali bin Abi Thalib RA. Pada hari pertempuran Khandaq itu lebih baik daripada ibadahnya penghuni langit dan bumi hingga hari Kiamat”.

Berharganya sebuah karya: (1) karena momen mahal yang jarang terjadi dan sulit kita dapatkan kesempatan itu berulang, (2) Hasil karyanya memberikan dampak yang sangat luar biasa baik secara internal kaum muslimin maupun eksternal yang dirasakan mereka, (3) Tidak semua orang bisa lakukan hal yang dia sumbangsihkan, (4) Karyanya merupakan karya yang unik dan langka.

Tiga Nasihat

3 NASIHAT IMAM AHLI MAKKAH DI ZAMANNYA, SUFYAN BIN UYAINAH

كان الصالحون يتواصون بثلاث كلمات لو وزنت بالذهب لرجحت به:

الأولى : من أصلح مابينه وبين الله أصلح الله ما بينه وبين الناس.

الثانية : من أصلح سريرته أصلح الله علانيته.

الثالثة : من اهتم بأمر آخرته كفاه الله أمر دنياه وآخرته…
Orang-orang shalih dahulu saling berwasiat dengan tiga kalimat, yang jika dibandingan dengan emas, pastilah lebih berharga:
➡ 1. Siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan perbaiki hubungannya dengan manusia

➡ 2. Siapa memperbaiki hatinya (batinnya), Allah perbaiki tampilannya (luarannya)

➡ 3. Siapa perhatian kepada akhiratnya, Allah cukupi urusan dunia dan akhiratnya

🔵🔵🔵🔵🔵🔵🔵🔵

_Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya di kitab Al-Ikhlas dan dinukil Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di awal Kitab Iman, Majmu’ Fatawa_

KATA-KATA PENUH HIKMAH

مَنْ لَم يستطيع الوقوف بعرفة، فليقف عند حدود الله الذي عرفه

Siapa yang belum mampu wukuf di Padang Arafah, maka wukuflah ( berdiri dan menahan diri) dari batasan-batasan Allah yang ia telah ketahui.

من لم يستطيع الوصول  للبيت لأنه منه بعيد، فليقصد رب البيت فإنه أقرب إليه من حبل الوريد

Siapa yang belum mampu mendatangi Ka’bah (rumahnya), hendaknya dia mendatangi Tuhan Pemilik Ka’bah, sebab zat-Nya lebih dekat jaraknya dari urat nadi kita..

من لم يقدر على نحر هديه بمنى، فليذبح هواه هناليبلغ به المنى

Siapa yang belum mampu menyembelih hewan qurban  di Mina, hendaknya ia menyembelih hawa nafsunya agar dapat meraih harapan tertinggi dalam hidupnya.

RENUNGAN MAKNA “TAKBIR”

Setiap kali datang hari raya, baik idul fitri maupun idul adha kita selalu mendengar gema takbir.. sebagai ungkapan bahagia dan syukur atas nikmat yang Allah anugerahkan.

Jika idul fitri gema takbir menandakan berakhirnya puasa ramadhan dan masuknya tanggal 1 syawal… sejak terbenam matahari hingga waktu asar esok harinya gema takbir berkumandang…

Adapun gema takbir pada hari idul adha berkumandang setelah masuk hari ke 10 bulan zulhijjah, menandakan berakhirnya ritual wukuf bagi yang melaksanakan ibadah lalu bergerak ke Mudzdalifah untuk mabit dan paginya bergerak kembali menuju Mina untuk melontar jumroh aqobah atau ke Mekkah untuk melakukan thawaf ifadhoh (mana yang mau dilakukan lebih dahulu diperbolehkan) dan setelah itu tahallul maka selesailah pemakaian kain ihram bagi laki laki yang berhaji…

Adapun bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji, takbir menandakan usainya pelaksanaan puasa sunnah arafah, yang keutamaanya menghapus kesalahan selama satu tahun.. dan takbir ini terus dikumandangkan pada hari hari tasyriq yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijjah…

Adapun kalimat takbir yang selalu dilantunkam pada setiap moment idil fitri dan idul adha adalah sebagai berikut

اللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً

لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَلاَنَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، 

لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لآَاِلهَ اَلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan kecuali Alah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi-Nya segala pua dan puji.
Allah Maha Besar dan pujian bagi Allah sebanyak-banyaknya, bertasbih kepada Allah setiap pagi dan petang. Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan ikhlas menjalankan agama walaupun orang-orang karif membenci. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata. Benar janji-Nya, dan menolong hamba-Nya, juga lasykar-Nya dan menghancurkan musuhNya dengan dirinya semata. Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah semata segala puja dan puji.

Adapun esensi dari takbir adalah sebagai berikut

1. Mengagungkan Allah SWT dan mentauhidkan Nya… serta pujian hanya milik Allah semata

اللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

inilah pengakuan tulus seorang hamba kepada Allah sang pencipta alam semesta beserta isinya, pengakuan akan kecil makhluk dan besarnya Allah SWT.. Allah Maha Esa, tiada tuhan selain Allah.. tidak ada yang berhak dipuji dan disanjung kecuali Allah, pujian karena Dia telah begitu banyak bahkan berlimpah menganugerahkan nikmat nya kepada seluruh makhlukNya, tetutama manusia yang diciptakan dengan sempurna, diberi nikmat zahir dan batin, nikmat tubuh, jiwa dan akal, nikmat kemudahan dapat menguasai alam jagad raya…sengguh begitu banyak nikmat lainnya.. tiada hingga siapapun tidak sanggup menghitungnya… dan memang tidak perintahkan manusia menghitung seluruh nikmatNya namun hanya dipetintah untuk mensyukurinya.. dan pujian adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah tersebut

2. Dzikir kepada Allah dengan lantunan takbir, tahmid dan tasbih baik di pagi dan sore hari

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً.

3. Pengakuan tiada tuhan Allah dan pengakuan tulus bahwa manusia tidak menyembah kecuali Allah dengan penuh ketelaan meski orang orang kafir membencinya

لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَلاَنَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، 

4. Pengakuan tiada tuhan selain Allah dengan iringan pengakuan tulus bahwa segalanya kembali kepada Allah, hanya Allah yang dapat melakukan segala, janji Allah adalah benar, pembelaan Allah kepada setiap hambanya adalah benar, memuliakan para tentaraNya yang gigih berjuang membela agamaNya adalah benar dan Allah sendiri yang akan membinasakan dan menghancurkan musuh musuhNya.. sungguh semua itu menandakan keagungan dan kebesaran Allah 

لآَاِلهَ اِلاَّاللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهُ، لآَاِلهَ اَلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ الْحَمْدُ

Itulah tauhid, keimanan yang menghunjam dalam sanubari, akidah yang mengikat pada kekuasaan Allah, keyakinan yang mantap dalam jiwa… sejatinya dengan tauhid, iman, akidah dan keyakinan mampu menguasai kehidupan, merambah ke segala aspek kehidupan dan lininya, senantiasa hidup dalam kebaikan sesuai dengan kehendak Allah dan pada akhirnya menjadi sarana kemenangan dalam segala kancah kehidupan…

La ilaha Illah.. yang oleh baginda Rasulullah menyebutnya sebagai pembuka kehidupan dan kekuasaan ke jazirah arab dan sekitarnya..

Akhlaq Kepada Allah Ta’ala

  1. AKHLAK MANUSIA SEBAGAI HAMBA ALLAH

Manusia sebagai hamba Allah sepantasnya mempunyai akhlak yang baik kepada Allah. Hanya Allah–lah yang patut disembah. Selama hidup, apa saja yang diterima dari Allah sungguh tidak dapat dihitung. Sebagaimana telah Allah firmankan dalam Qur’an surat An-nahl : 18, yang artinya “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar- benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Akhlak kepada Allah dapat diartikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk Tuhan sebagai khalik.

Berkenaan dengan akhlak kepada Allah dilakukan dengan cara memuji-Nya, yakni menjadikan Tuhan sebagai satu- satunya yang menguasai dirinya. Oleh sebab itu, manusia sebagai hamba Allah mempunyai cara-cara yang tepat untuk mendekatkan diri. Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Mentauhidkan Allah

Yaitu dengan tidak menyekutukan-Nya kepada sesuatu apapun. Seperti yang digambarkan dalam Qur’an Surat Al-Ikhlas : 1-4.[1]

  1. Bertaqwa kepada Allah

Maksudya adalah berusaha dengan semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan apa-apa yang telah Allah perintahkan dan meninggalkan apa-apa yang dilarang-Nya.

  1. Hakekat taqwa dan kriteria orang bertaqwa

Bila ajaran Islam dibagi menjadi Iman, Islam, dan Ihsan, maka pada hakikatnya taqwa adalah integralisasi ketiga dimensi tersebut. Lihat ayat dalam Surah Al- Baqoroh: 2-4, Ali Imron: 133-135.

Dalam surah Al- Baqoroh ayat 2-4 disebutkan empat kriteria orang- orang yang bertaqwa, yaitu: 1). Beriman kepada yang ghoib, 2). Mendirikan sholat, 3). Menafkahkan sebagian rizki yang diterima dari Allah, 4). Beriman dengan kitab suci Al- Qur’an dan kitab- kitab sebelumnya dan 5). Beriman dengan hari akhir. Dalam dua ayat ini taqwa dicirikan dengan iman ( no. 1,4 dan 5 ), Islam (no. 2 ), dan ihsan ( no. 3 ).

Sementara itu dalam surah Ali Imron 134-135 disebutkan empat diantara ciri- ciri orang yang bertaqwa, yakni: 1). Dermawan ( menafkahkan hartanya baik waktu lapang maupun sempit), 2). Mampu menahan marah, 3). Pemaaf  dan  4). Istighfar dan taubat dari kesalahan- kesalahannya. Dalam dua ayat ini taqwa dicirikan dengan aspek ihsan.

  1. Buah dari taqwa
  2. Mendapatkan sikap furqan yaitu tegas membedakan antara hak dan batil (Al- anfal : 29)
  3. Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan (At-thalaq : 2)
  4. Mendapat rezeki yang tidak diduga- duga (At-thalaq : 3)
  5. Mendapat limpahan berkah dari langit dan bumi (Al- A’raf : 96)
  6. Mendapatkan kemudahan dalam urusannya (At-thalaq : 4)
  7. Menerima penghapusan dosa dan pengampunan dosa serta mendapat pahala besar (Al- anfal : 29 & Al- anfal : 5).[2]
  8. Beribadah kepada Allah

Allah berfirman dalam Surah Al- An’am : 162 yang artinya :”Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Dapat juga dilihat dalam Surah Al- Mu’min : 11 & 65 dan Al- Bayyinah : 7-8.[3]

  1. Taubat

Sebagai seorang manusia biasa, kita juga tidak akan pernah luput dari sifat lalai dan lupa. Karena hal ini memang merupakan tabiat manusia. Oleh karena itu, ketika kita sedang terjerumus dalam kelupaan sehingga berbuat kemaksiatan, hendaklah segera bertaubat kepada-Nya. Hal ini dijelaskan dalam Surah Ali-Imron : 135.

  1. Membaca Al-Qur’an

Seseorang yang mencintai sesuatu, tentulah ia akan banyak dan sering menyebutnya. Demikian juga dengan mukmin yang mencintai Allah, tentulah ia akan selalu menyebut asma-Nya dan juga senantiasa akan membaca firman-firman-Nya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berkata yang artinya : “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu dapat memberikan syafaat dihari kiamat kepada para pembacanya”.

  1. Ikhlas

Secara terminologis yang dimaksud dengan ikhlas adalah beramal semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata karena Allah SWT.

  1. Tiga unsur keikhlasan:
  2. Niat yang ikhlas ( semata-semata hanya mencari ridho Allah )
  3. Beramal dengan tulus dan sebaik-baiknya

– Setelah memiliki niat yang ikhlas, seorang muslim yang mengaku  ikhlas melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu dengan sebaik-baiknya.

  1. Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat.
  2. Keutamaan Ikhlas[4]

Hanya dengan ikhlas, semua amal ibadah kita akan diterima oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :”Selamatlah para mukhlisin. Yaitu orang- orang yang bila hadir tidak dikenal, bila tidak hadir tidak dicari- cari. Mereka pelita hidayah, mereka selalu selamat dari fitnah kegelapan…”( HR. Baihaqi ).

  1. Khauf dan Raja’

Khauf dan Raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus dimiliki secara seimbang oleh setiap muslim. Khauf didahulukan dari raja’ karena khauf dari bab takhalliyyah (mengosongkan hati dari segala sifat jelek), sedangkan raja’ dari bab tahalliyah (menghias hati dengan sifat-sifat yang baik). Takhalliyyah menuntut tarku al-mukhalafah (meninggalkan segala pelanggaran), dan tahalliyyah mendorong seseorang untuk beramal.4

  1. Tawakal

       Adalah membebaskan diri dari segala kebergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepadanya. Allah berfirman dalam surah Hud: 123, yang arinya :”Dan kepunyaan Allah lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan- urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali- kali Tuhanmu tidah lalai dari apa yang kamu kerjakan.”

Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal ( ikhtiar ). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa- apa.

BAB III