Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk

FIQIH๐Ÿ“š F-005

Ustadz. Ahmad Sahal Lc.

Menghormati Madzhab Fiqih Mayoritas Penduduk

โœ… Yang dimaksud dengan madzhab fiqih mayoritas penduduk dalam hal ini adalah salah satu dari sekian madzhab yang muโ€™tabar (diakui) menurut Ahlu As-Sunnah wa Al-Jamaโ€™ah, terutama empat madzhabnya yakni Hanafi, Maliki, Syafiโ€™i dan Hambali, di mana perbedaan pendapat di antara empat madzhab tersebut adalah perbedaan yang muโ€™tabar dan sah. 

Dan untuk Indonesia, mayoritas ulamanya mendalami dan mengajarkan fiqih madzhab Syafiโ€™i kepada masyarakat.

๐Ÿ“– Dalil yang menunjukkan penghormatan kepada madzhab mayoritas penduduk diantaranya adalah hadits Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam:

ุงูŽู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูŽุตููˆู…ููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ู’ููุทู’ุฑู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชููู’ุทูุฑููˆู†ูŽุŒ ูˆูŽุงู„ุฃูŽุถู’ุญูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุชูุถูŽุญูู‘ูˆู†ูŽ

Berpuasa adalah pada hari di mana kalian berpuasa, idul fitri adalah hari kalian beridul fitri, dan idul adha adalah hari kalian beridul adha (berqurban). (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, Ad-Daraquthni โ€“ shahih).

โœ… Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan makna hadits ini:

ูˆูŽููŽุณูŽู‘ุฑูŽ ุจูŽุนู’ุถู ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ุนูู„ู’ู…ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุญูŽุฏููŠุซูŽุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ุตูŽู‘ูˆู’ู…ูŽ ูˆูŽุงู„ููุทู’ุฑูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูˆูŽุนูุธู’ู…ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู .

Dan sebagian ulama menafsirkan hadits ini, dengan perkataan: โ€œYang dimaksud adalah bahwa berpuasa dan beridul fitri itu bersama jamaah dan mayoritas masyarakat.โ€

Dari hadits dan penjelasannya terlihat bahwa penghormatan terhadap pendapat mayoritas masyarakat โ€“ selama bukan kesesatan โ€“ adalah bagian dari arahan Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam. Dan pendapat salah satu madzhab fiqih yang muโ€™tabar bukanlah kesesatan. Bahkan untuk masalah-masalah yang berkaitan erat dengan syiar persatuan dan kebersamaan, seperti puasa Ramadhan, idul fitri dan idul adha, penghormatan itu diarahkan sampai pada tingkat mengikuti pendapat mayoritas masyarakat muslim dan meninggalkan pendapat sendiri, bukan sekedar menghargai lalu tetap melaksanakan pendapat sendiri atau pendapat minoritas. Apalagi jika pendapat mayoritas ini dikuatkan dengan keputusan dari pihak yang berwenang.
๐ŸŽฏ Praktek Salaf Shalih dan Para Ulama Besar
โœ… Sikap โ€˜Umar bin Abdul โ€˜Aziz rahimahullah

Khalifah โ€˜Umar bin Abdul โ€˜Aziz menetapkan dan mengumumkan ketetapannya ke seluruh wilayah khilafah saat itu:

ู„ููŠูŽู‚ู’ุถู ูƒูู„ูู‘ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ุจูู…ูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููู‚ูŽู‡ูŽุงุคูู‡ูู…ู’ 

Hendaklah setiap kaum memutuskan perkara (diantara mereka) dengan kesepakatan dari ahli fiqih mereka masing-masing. (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi dalam Sunannya).

Zuraiq bin Hakim rahimahullah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz saat ia menjadi gubernur Syam:

ุฅูู†ูŽู‘ูƒูŽ ูƒูู†ู’ุชูŽ ุชูŽู‚ู’ุถููŠ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉู ุจูุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุงู„ุดูŽู‘ุงู‡ูุฏู ุงู„ูˆูŽุงุญูุฏู ูˆูŽูŠูŽู…ููŠู†ู ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ุญูŽู‚ูู‘ุŒ ููŽูƒูŽุชูŽุจูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูู…ูŽุฑู ุจู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุนูŽุฒููŠุฒู: ุฅูู†ูŽู‘ุง ูƒูู†ูŽู‘ุง ู†ูŽู‚ู’ุถููŠ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุฏููŠู†ูŽุฉูุŒ ููŽูˆูŽุฌูŽุฏู’ู†ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุงู…ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ููŽู„ูŽุง ู†ูŽู‚ู’ุถููŠ ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูุดูŽู‡ูŽุงุฏูŽุฉู ุฑูŽุฌูู„ูŽูŠู’ู†ู ุนูŽุฏู’ู„ูŽูŠู’ู†ูุŒ ุฃูŽูˆู’ ุฑุฌูู„ู ูˆูŽุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุชูŽูŠู’ู†ู

โ€œSesungguhnya engkau dulu di Madinah memutuskan (perkara) dengan kesaksian seseorang dan sumpah dari pemilik hak.โ€

Maka Umar bin Abdul Aziz menulis balasannya: โ€œSesungguhnya kami sebelumnya memutuskan seperti itu di Madinah, lalu kami menemukan penduduk Syam tidak seperti itu. Maka kami tidak memutuskan kecuali dengan kesaksian dua orang laki-laki yang terpercaya atau dengan kesaksian seorang laki-laki dan dua orang perempuan (mengikuti kebiasaan penduduk Syam).โ€ (Iโ€™lam Al-Muwaqqiโ€™in, Ibnul Qayyim, 3/97).

Hal tersebut menunjukkan bahwa Umar bin Abdul Aziz amat peduli untuk TIDAK MENGUBAH kebiasaan suatu masyarakat selama kebiasaan itu tetap dalam bingkai syariat.
โœ… Sikap Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah

Saat Khalifah Abu Jaโ€™far Al-Manshur hendak menyatukan kaum muslimin dari berbagai wilayah dengan pendapat Al-Imam Malik, beliau menolak dan menyatakan:

ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจู’ุชูŽ ุชูุญูŽูˆูู‘ู„ูู‡ูู…ู’ ู…ูู…ูŽู‘ุง ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ูŽ ุฑูŽุฃูŽูˆู’ุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ูƒููู’ุฑู‹ุง ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ุฃูŽู‚ูุฑูŽู‘ ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ูƒูู„ูู‘ ุจูŽู„ู’ุฏูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ูููŠู‡ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุนูู„ู’ู…ู.

Jika Anda pergi mengubah dari apa yang mereka kenal menjadi apa yang tidak mereka kenal, mereka akan menganggapnya kufur. Akan tetapi, akuilah setiap negeri atas ilmu yang ada pada penduduknya masing-masing. (Al-Jarh wa At-Taโ€™dil, Ibnu Abi Hatim, hlm 29).
โœ… Sikap Ibnu Abdil Bar rahimahullah

Ibnu Abdil Bar mengemukakan alasan mengapa ia mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya dalam melakukan syarah terhadap kitab Al-Muwatha karya Al-Imam Malik rahimahullah:

ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ุงุนู’ุชูŽู…ูŽุฏู’ุชู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉู ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุฎูŽุงุตูŽู‘ุฉู‹ ู„ูู…ูŽูˆู’ุถูุนูู‡ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุจูŽู„ูŽุฏูู†ูŽุง ู…ูู†ูŽ ุงู„ุซูู‘ู‚ูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ูˆูŽุงู„ููŽุถู’ู„ู ูˆูŽุงู„ุนูู„ู’ู…ู ูˆูŽุงู„ููŽู‡ู’ู…ูุŒ ูˆูŽู„ููƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ุงุณู’ุชูุนู’ู…ูŽุงู„ูู‡ูู…ู’ ู„ูุฑููˆูŽุงูŠูŽุชูู‡ูุŒ ูˆูุฑูŽุงุซูŽุฉู‹ ุนูŽู†ู’ ุดููŠููˆุฎูู‡ูู…ู’ ูˆูŽุนูู„ูŽู…ูŽุงุฆูู‡ูู…ู’ุŒ ููŽูƒูู„ูู‘ ู‚ูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูŽู‡ูู…ู ุงู…ู’ุชูุซูŽุงู„ู ุทูŽุฑููŠู‚ู ุณูŽู„ูŽููู‡ูู…ู’ ูููŠู…ูŽุง ุณูŽุจูŽู‚ูŽ ู„ูŽู‡ูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุฎูŽูŠู’ุฑูุŒ ูˆูŽุณูู„ููˆูƒู ู…ูู†ู’ู‡ูŽุงุฌูู‡ูู…ู’ ูููŠู…ูŽุง ุงุญู’ุชูŽู…ูŽู„ููˆู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ู…ูู†ูŽ ุงู„ุจูุฑูู‘ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ู…ูุจูŽุงุญุงู‹ ู…ูŽุฑู’ุบููˆุจุงู‹ ูููŠู‡ู. 

Yang membuat aku mengandalkan riwayat Yahya bin Yahya secara khusus adalah karena posisi beliau yang terhormat di mata penduduk negeri kami dari sisi kepercayaan mereka terhadapnya, keagamaan, kelebihan, ilmu, dan pemahaman beliau. Juga karena para penduduk banyak menggunakan riwayatnya sebagai warisan dari para syaikh dan ulama mereka. Maka setiap kaum hendaklah mempraktekkan cara pendahulu mereka yang baik dan menempuh metode kebajikan yang telah mereka bawa selama ini, meskipun cara dan metode yang lain boleh atau menarik. (At-Tamhid, Ibnu Abdil Bar, 1/10).
โœ… Sikap Abu Umar Ahmad bin Abdullah bin Hasyim rahimahullah, guru Ibnu Abdil Bar

Dalam masalah mengangkat tangan saat berpindah gerakan dalam shalat, madzhab Maliki dari riwayat Ibnu Al-Qasim rahimahullah adalah tidak mengangkat tangan sama sekali kecuali saat takbiratul ihram, berdasarkan riwayat dari sahabat Abdullah bin Masโ€™ud radhiyallahu โ€˜anhu. Sementara mengangkat tangan berdasarkan riwayat Abdullah bin โ€˜Umar radhiyallahu โ€˜anhuma.

Abu Umar Ahmad bin Abdullah memuji gurunya yaitu Abu Ibrahim Ishaq bin Ibrahim rahimahullah yang mengangkat tangan tidak hanya saat takbiratul ihram karena mengikuti hadits riwayat Abdullah bin Umar radhiyallahu โ€˜anhuma.

Namun, ketika Ibnu โ€˜Abdil Bar bertanya kepada gurunya mengapa beliau tidak mengangkat tangan seperti โ€œkakek gurunyaโ€ sesuai hadits Ibnu Umar? Sang guru menjawab:

ู„ูŽุง ุฃูุฎูŽุงู„ููู ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉูŽ ุงุจู’ู†ู ุงู„ู‚ูŽุงุณูู…ูุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ุงู„ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ุงู„ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽู…ูุฎูŽุงู„ูŽููŽุฉู ุงู„ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ูููŠู…ูŽุง ู‚ูŽุฏู’ ุฃูุจููŠุญูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ู…ูู†ู’ ุดููŠูŽู…ู ุงู„ุฃูŽุฆูู…ูŽู‘ุฉู 

Aku tidak akan menyalahi riwayat Ibnu Al-Qasim, alasannya karena jamaah (masyarakat) hari ini mengikuti beliau. Dan menyalahi jamaah dalam hal yang kita telah diperbolehkan mengamalkannya (maksudnya dalam maslah furuโ€™) bukanlah sikap para imam. (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Bar, 1/408-409).
โœ… Sikap Ibnu Taimiyah rahimahullah

Ketika membahas bacaan basmalah dalam Al-fatihah di dalam shalat, apakah dibaca keras atau tidak dst .. Ibnu Taimiyah menyelingi dengan satu adab fiqih dengan menyatakan:

ูˆูŽูŠูุณู’ุชูŽุญูŽุจูู‘ ู„ูู„ุฑูŽู‘ุฌูู„ู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ู’ุตูุฏูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ุชูŽุฃู’ู„ููŠูู ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู ุจูุชูŽุฑู’ูƒู ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ุชูŽุญูŽุจูŽู‘ุงุชูุ› ู„ูุฃูŽู†ูŽู‘ ู…ูŽุตู’ู„ูŽุญูŽุฉูŽ ุงู„ุชูŽู‘ุฃู’ู„ููŠูู ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุตู’ู„ูŽุญูŽุฉู ููุนู’ู„ู ู…ูุซู’ู„ู ู‡ูŽุฐูŽุง 

Disukai bagi seorang (imam) untuk menyengaja mengakrabkan hati (mayoritas jamaah) dengan meninggalkan (yang ia yakini mustahab/sunnah), karena maslahat keakraban (ukhuwah) di dalam agama ini lebih agung dari pada maslahat melakukan hal seperti ini (yang mustahab tsb). (Al-Qawaโ€™id An-Nuraniyah Al-Fiqhiyah, Ibnu Taimiyah, hlm 46).

Dari ucapan dan sikap para ulama besar yang teramat memahami Al-Quran dan Hadits di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa madzhab atau pendapat mayoritas masyarakat dalam hal-hal yang tidak sesat, atau dalam hal yang memang diperbolehkan terjadi perbedaan pendapat lalu mayoritas masyarakat menganut salah satu diantaranya, maka sikap yang baik adalah menghormati mereka.
๐ŸŽฏ Prinsipnya adalah:

ุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ูˆููŠุดู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูˆูŽุฅูุซูŽุงุฑูŽุฉู ุงู„ููุชู’ู†ูŽุฉู ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู…ู’

Tidak mengganggu ketenangan masyarakat dan tidak memancing kegaduhan di tengah masyarakat.

Ini adalah prinsip umum yang harus didahulukan dari maslahat mengamalkan perbuatan yang kita anggap sunnah atau mustahab namun masyarakat tidak memahaminya atau membutuhkan waktu untuk memahaminya.

โœ… Prinsip ini diambil dari sikap Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wasallam yang tidak memugar Kaโ€™bah sesuai bangunan Nabi Ibrahim alaihissalam. Beliau membiarkannya karena jika dilakukan pemugaran akan memancing kegaduhan masyarakat Quraisy. Beliau bersabda kepada โ€˜Aisyah radhiyallau โ€˜anha:

ยซูŠูŽุง ุนูŽุงุฆูุดูŽุฉูุŒ ู„ูŽูˆู’ู„ุงูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ููƒู ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุนูŽู‡ู’ุฏูู‡ูู…ู’ – ุจููƒููู’ุฑู – ู„ูŽู†ูŽู‚ูŽุถู’ุชู ุงู„ู’ูƒูŽุนู’ุจูŽุฉูŽ ููŽุฌูŽุนูŽู„ู’ุชู ู„ูŽู‡ูŽุง ุจูŽุงุจูŽูŠู’ู†ู ุจูŽุงุจูŒ ูŠูŽุฏู’ุฎูู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูุŒ ูˆูŽุจูŽุงุจูŒ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌููˆู†ูŽยป (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู…)

Wahai Aisyah, kalau bukan karena kaummu belum lama kafir, pasti telah kuubah Kabah, aku jadikan dua pintu, satu pintu untuk orang-orang masuk, satu pintu untuk mereka keluar. (HR. Al-Bukhari & Muslim).

โœ… Juga dari ucapan Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu โ€˜anhu:

ุญูŽุฏูู‘ุซููˆุง ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณูŽ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽุนู’ุฑููููˆู†ูŽุŒ ุฃุชูุญูุจูู‘ูˆู†ูŽ ุฃู†ู’ ูŠููƒูŽุฐูŽู‘ุจูŽ ุงู„ู„ู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู ุŸ!

Bicaralah kepada masyarakat dengan hal yang mereka kenal (mereka mudah memahami), apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?! (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya).
Ungkapan beliau โ€œapakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?!โ€ menunjukkan bahwa meskipun yang kita sampaikan adalah ayat Al-Quran atau Hadits Rasul yang tentu saja baik, namun jika hal itu belum dapat dimengerti oleh masyarakat, atau perlu waktu bagi mereka untuk memahaminya, maka hendaklah kita hindari, paling tidak bertahap menyampaikannya. Karena bila kita sembrono, mungkin yang terjadi adalah ayat atau hadits itu didustakan.
Membiarkan masyarakat mengamalkan amalan dari madzhab yang muโ€™tabar akan membuat potensi para daโ€™i dan pemimpin lebih fokus dalam membangun hal-hal lain yang diperlukan oleh ummat. 

Channel Telegram Ilmu SYARIAH : @ilmusyariah / bit.ly/1RF5IPk

Rahmat Allah Menuntun Kita Sampai di Sini

Dari dan seizin ustadz Lili Nur Aulia

–  Di jalan ini, kita melangkah untuk meraih surga Allah swt. Surga yang luasnya melebihi keluasan langit dan bumi. 

–  Prinsip kita  dalam hal ini seperti ungkapan seorang penyair,  _man yakhthub al hasnaa, lam yaghullaha  mahru_, tak ada yang dianggap mahal bagi seorang pria yang ingin meminang gadis pilihannya.

–   Kita  ingin meminang surga yang menjadi bagian dari rangkaian mimpi-mimpi kita. Kita  ingin memperoleh ridha-Nya, cinta-Nya, yang menyebabkan kemenangan bagi kita  di dunia dan akhirat.

–   Kita  harus merasakan keberatan demi mencapai keinginan itu.

–  Ibnul Qayyim rahimahullahmengatakan

๏ป“๏ปผ ๏ป“๏บฎ๏บฃ๏บ” ๏ปŸ๏ปค๏ปฆ ๏ปป ๏ปซ๏ปขู‘ ๏ปŸ๏ปช ุŒ ๏ปญ๏ปป ๏ปŸ๏บฌู‘๏บ“ ๏ปŸ๏ปค๏ปฆ ๏ปป ๏บป๏บ’๏บฎ ๏ปŸ๏ปช , ๏ปญ๏ปป

๏ปง๏ปŒ๏ปด๏ปข ๏ปŸ๏ปค๏ปฆ ๏ปป ๏บท๏ป˜๏บŽ๏บ€ ๏ปŸ๏ปช , ๏ปญ๏ปป ๏บญ๏บ๏บฃ๏บ” ๏ปŸ๏ปค๏ปฆ ๏ปป ๏บ—๏ปŒ๏บ ๏ปŸ๏ปช

โ€œTakada kesenangan bagi orang yang tak memiliki obsesi untuk senang. Tak ada kelezatan bagi orang yang tak bersabar memperolehnya. Tak ada kenikmatan bagi orang yang tidak mau berkorban untuk kenikmatan, tidak ada istirahat bagi orang yang tak mau berletih-letih untuk istirahat.โ€œ

–   Seperti juga dikatakan oleh Al Mutanabbi:

ูˆุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุงู„ู†ููˆุณ ูƒุจุงุฑุงู‹

 ุชุนุจุช ููŠ ู…ุฑุงุฏู‡ุง ุงู„ุฃุฌุณุงู…

_Jika jiwa telah menjadi besar. Letih jasad mengikuti inginnya_

–    Seseorang bertanya, โ€œKapankah seorang daโ€™i akan banyak tidur dan istirahat? Jika ia beristirahat atau tidur di siang hari, itu pertanda ia menyia-nyiakan orang-orang yang akan menjadi pendukung dakwahnya, orang-orang yang ia cintai, orang-orang yang ada dalam bimbingannya. Dan bila ia tidur di malam hari, itu berarti ia menyia-nyiakan dirinya.โ€œ

–   Ketika Allah swt memberi petunjuk kepada kita untuk menemui jalan ini. Ketika Allah swt menempatkan kita  berada di antara barisan para penyeru dakwah kepada-Nya.

–  Ketika itulah sesungguhnya kita  telah memilih jalan yang meletihkan. Ketika itulah sebenarnya kita telah menjatuhkan pilihan untuk tidak banyak istirahat, tidak membiarkan terlalu banyak senda gurau dalam hal mubah sekalipun.

–  Itulah yang dikatakan juga oleh salah seorang salafushalih, ketika ia ditanya, โ€œApa yang bisa mengurangi tekad seseorang?โ€œ Ia menjawab, โ€œPanjang angan-angan, dan gemar istirahat.โ€œ  (Al Masaar, Muhammad Ahmad Ar Rasyid/ 165)

–  Ada ilustrasi lain yang diuraikan Ahmad Ar Rasyid, โ€œSeorang daโ€™i menolak duduk apalagi beristirahat lama-lama. Jika ia pulang ke rumahnya tengah malam, dan melihat debu di tubuhnya, tersungging senyuman di wajahnya, gembira hatinya. Berkata ia pada jiwanya, โ€œRasulullah saw bersabda, โ€œBarangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah akan haramkan dia dari neraka.โ€œ Selanjutnya ia akan tertidur dengan hati bahagia karena debu-debu yang diperolehnya selama perjalanan dakwah. Sementara orang lain tidur gembira dengan kekayaannya yang disimpan di bank-bank.โ€œ (Bawariq daโ€™wiyah/91)

–  Bukan berarti kita tidak boleh istirahat ya. Sebab kita  berada di jalan ini karena rahmat Allah swt. Rahmat Allah itu juga yang menuntun kita  hingga sampai di jalan ini dan bertemu di sini. Dan jalan ini sendiri adalah jalan yang penuh dengan hamparan rahmat Allah swt.  

–   Tarik nafas dalam-dalam. Pejamkan mata. Lepaskan nafas seiring ucapan tasbih, tahmid, takbir, tahlil.

#menghiburuntukyanglagiletihmeskitidakberdebu ๐Ÿ™‚

Suara Hati; Dan Katakanlah Bekerjalah Kalian..!!

Segala puji hanya milik Allah dan shalawat dan salam atas Rasulullah saw beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mendukungnya…

Allah SWT berfirman: “Dan bekerjalah kalian, niscaya Allah akan melihat perbuatan kalian, dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman”. (At-Taubah:105); maksudnya adalah bahwa perbuatan kalian tidak dapat disembunyikan dihadapan Allah dan dihadapan Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman, dan barangsiapa yang menyadari bahwa perbuatannya tidak dapat disembunyikan maka dirinya akan termotivasi dan senang melakukan perbuatan baik, menjauhi perbuatan jahat, memiliki semangat tinggi disertai dengan ikhlas karena Allah, karena itu semangat yang tinggi dan niat yang ikhlas jika bersatu maka akan mencapai tujuan yang diinginkan… Allah SWT berfirman: “Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”. (Muhammad:21)

Risalah yang agung harus diiringi dengan semangat yang tinggi…

Wahai Ikhwan…

Demikianlah seruan Allah kepada kalian dan umat manusia seluruhnya, dan kalian lebih utama untuk bersegera melakukan ketaatan; karena kalian memiliki tugas membawa risalah yang agung ini… risalah nabi Muhammad saw yang juga membawa kebaikan untuk seluruh dunia, dan yang tidak mungkin dapat mencapai tujuan yang hakiki kecuali oleh para dua yang berpegang teguh pada agama dengan kuat, siap menanggung beban risalah dengan penuh kesungguhan dan azam. Allah berfirman: “Hai Yahya, ambillah Al kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh “. (Maryam:12) “Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; Maka (kami berfirman): “Berpeganglah kepadanya dengan teguh”. (Al-A’raf:145) dan firman Allah: “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu “. (Al-Baqarah:63)

Karena itu berpegang teguh pada kitab ini dan membawa risalah ini membutuhkan adanya perasaan akan tanggungjawab yang besar, azimah yang kuat dan keteguhan yang kokoh, yang tidak akan mampu dibawanya kecuali orang-orang mulia pilihan dan siap berjuang dan berkorban…ustadz imam Hasan Al-Banna rahimahullah berkata kepada pemuda pengemban dakwah:

“ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุชูŽู†ู’ุฌูŽุญู ุงู„ู’ูููƒู’ุฑูŽุฉู ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽูˆููŠูŽ ุงู„ุฅููŠู’ู…ูŽุงู†ู ุจูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุชูŽูˆูŽูู‘ูŽุฑู‘ ุงู„ุฅูุฎู’ู„ุงูŽุตู ูููŠ ุณูŽุจููŠู’ู„ูู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุงุฒู’ุฏูŽุงุฏูŽุชู’ ุงู„ู’ุญูŽู…ูŽุงุณูŽุฉู ู„ูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽูˆูุฌูุฏูŽ ุงู„ุงุณู’ุชูุนู’ุฏูŽุงุฏู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ูŠูŽุญู’ู…ูู„ูŽ ุนูŽู„ู‰ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุถู’ุญููŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ู„ูุชูŽุญู’ู‚ููŠู’ู‚ูู‡ูŽุง“.

“Keberhasilan ideologi itu hanya akan tercapai jika keimanan yang kokoh dengannya, keikhlasan yang penuh di jalannya, meningkat terus semangat untuknya dan terdapat kesiapan diri untuk berkorban dan bekerja untuk mewujudkannya”.

Kalian adalah pilihan umat ini…

Rasulullah saw bersabda:

ุชูŽุฌูุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณูŽ ูƒูŽุฅูุจูู„ู ู…ูุงุฆูŽุฉู ู„ุงูŽ ูŠูŽุฌูุฏู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ูููŠู‡ูŽุง ุฑูŽุงุญูู„ูŽุฉู‹

“Kalian menemukan di tengah umat manusia seperti 100 unta, tidak seorangpun yang mendapatkan unta pilihan”. Dalam riwayat lain disebutkan:

ู„ุงูŽ ุชูŽูƒูŽุงุฏู ุชูŽุฌูุฏู ูููŠู‡ูŽุง ุฑูŽุงุญูู„ูŽุฉู‹

“Hampir saja tidak ditemukan di dalamnya unta pilihan”. (Syaikhani).

Dan makna rahilah adalah unta yang bagus kuat mampu membawa beban berat dan perjalanan yang panjang, indah dilihat dan bentuk yang menakjubkan, dan yang demikian sangatlah jarang, begitu pula manusia yang produktif yang mampu membawa beban dan tanggung, membawa beban berat dan pengorbanan untuk mewujudkan tujuan yang mulia; mereka sangatlah sedikit, bahkan hampir sulit ditemukan dari setiap 100 orang salah seorang dari mereka. Nabi saw bersabda:

ู„ุงูŽ ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ู…ูุงุฆูŽุฉู ู…ูุซู’ู„ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ

“Kami tidak mendapatkan sesuatu kebaikan dari seratus orang yang serupa kecuali seseorang yang beriman”. (Ahmad) dan dalam riwayat lain

ู„ุง ู†ูŽุนู’ู„ูŽู…ู ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽู„ู’ูู ู…ูุซู’ู„ูู‡ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ูŽ

“Kamu tidak akan mendapatkan sesuatu kebaikan dari seribu orang yang sama kecuali seseorang yang beriman”. (Thabrani),

dan dengan seperti inilah disempurnakan proses tarbiyah dalam dakwah kalian, wahai ikhwan kalian bukan bagian dari mereka yang disampaikan di dalamnya

ุฅู†ู‘ูŠ ู„ุฃูุชูŽุญู ุนูŽูŠู†ููŠูŽ ุญููŠู†ูŽ ุฃูุชูŽุญูู‡ุงย ย ย ย ย ย ย  ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูŽุซููŠุฑู ูˆู„ูƒู† ู„ุง ุฃุฑู‰ ุฃุญูŽุฏุง

Sungguh saya akan membuka kedua mata saya saat saya akan membukanya,ย Pada khalayak ramai namun saya tidak mendapatkan seorangpun.

Bahkan kalian mengerahkan jiwa kalian untuk melakukan peran yang besar dalam memberikan pelayanan pada agama dan umat, kalian bangkit dengannya, dan membangkitkan umat bersama kalian, karena itulah imam Syahid berkata:

ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุง ูƒูŽุซูุฑูŽุชู’ ูˆูŽุงุฌูุจูŽุงุชููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุง ุนูŽุธูู…ูŽุชู’ ุชูŽุจูŽุนูŽุงุชููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุง ุชูŽุถูŽุงุนูŽููŽุชู’ ุญูู‚ููˆู’ู‚ู ุฃูู…ู‘ูŽุชููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุง ุซู‚ูู„ูŽุชู’ ุงู„ุฃูŽู…ูŽุงู†ูŽุฉู ูููŠ ุฃูŽุนู’ู†ูŽุงู‚ููƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ู‡ูู†ูŽุง ูˆูŽุฌูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ุชูููŽูƒู‘ูุฑููˆู’ุง ุทูŽูˆููŠู’ู„ุงู‹ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู’ุง ูƒูŽุซููŠู’ุฑู‹ุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูุญูŽุฏู‘ูุฏููˆู’ุง ู…ูŽูˆู’ู‚ูููŽูƒูู…ู’ุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูŽุชูŽู‚ูŽุฏู‘ูŽู…ููˆู’ุง ู„ูู„ุฅูู†ู’ู‚ูŽุงุฐูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ ุชูุนู’ุทููˆุง ุงู„ุฃู…ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽู‚ู‘ูŽู‡ูŽุง ูƒูŽุงู…ูู„ุงู‹ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽุจูŽุงุจู

“Dari sinilah tampak kewajiban kalian begitu banyak, begitu berat beban atas kalian, begitu banyak hak-hak umat atas kalian, begitu berat amanah yang dipikulkan di pundak kalian, karena itu wajib atas kalian untuk berfikir panjang, bekerja lebih banyak, menentukan sikap, maju ke depan untuk melakukan penyelamatan, memberikan umat hak mereka secara sempurna dari para pemuda ini”.

Janganlah menjadi plin-plan

Wahai ikhwan, sesungguhnya gamblangnya misi kalian, mulianya tujuan kalian dan tingginya visi-visi kalian, dan memberikan pemahaman kepada kalian untuk kebutuhan dunia pada dakwah kalian untuk bersegera memperbaharui azam kalian dan menampilkan potensi kalian, mendorong kalian untuk berada di shaf terdepan bersama para reformis, mencegah kalian bermalas-malasan dan futur, canggung dan ragu atau memiliki karakter mengekor, demikianlah nabi saw mengingatkan:

ู„ุงูŽ ุชูŽูƒููˆู†ููˆุง ุฅูู…ู‘ูŽุนูŽุฉู‹ุŒ ุชูŽู‚ููˆู„ููˆู†ูŽ: ุฅูู†ู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู‘ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ุธูŽู„ูŽู…ู’ู†ูŽุงุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒูู†ู’ ูˆูŽุทู‘ูู†ููˆุง ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ุ› ุฅูู†ู’ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฃูŽู†ู’ ุชูุญู’ุณูู†ููˆุงุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุณูŽุงุกููˆุง ููŽู„ุงูŽ ุชูŽุธู’ู„ูู…ููˆุง

“Janganlah menjadi orang yang plin-plan, dengan berkata: Jika manusia baik kami akan ikut baik, jika mereka zhalim kamipun akan ikut zhalim, namun teguhkanlah pendirian kalian; jika manusia baik maka berbuatlah lebih baik, dan jika mereka berbuat jahat maka jangan ikut melakukannya”. (Tirmidzi)

Al-akh ust. AL-Bahi Al-Khuli berkata: “Bahwa seorang da’i wajib merasakan bahwa dakwahnya hidup dalam persendiannya, bergelora di dalam hatinya, mengalir pada aliran darahnya, sehingga mampu merubah dari sikap santai dan malas pada gerak dan kerja, menyibukkan diri ย dalam jiwanya, anaknya dan hartanya, demikianlah seorang da’i yang jujur yang merasakan keimanan pada dakwah dalam pandangan, gerak dan petunjuk, dalam bentuk yang bercampur dengan air wajahnya”.

Dari titik tolak ini saya ingin menyeru kalian โ€“wahai ikhwah yang tercinta- pada silsilah (rangkaian) dari (suara hati) saya mengingatkan kalian dan diri saya sendiri yang di dalamnya ada kewajiban kita yang terbesar dan misi kita yang mulia, untuk membangkitkan kembali semangat kita, menggerakkan kembali azam kita, meninggalkan kemalasan dan futur, menjadikan segala perkara Allah untuk kita, dan berprasangka baik pada umat bagi kita, tidak menjadikan kewajiban dan dakwah banyak permusuhan dan penopang kekuatan jahat.

Saya sangat yakin bahwa jika kita mampu merealisir kekuatan maka kelak Allah akan memberikan kemenangan dan mewujudkan cita-cita. Allah berfirman:

ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูู…ูŽุณู‘ููƒููˆู†ูŽ ุจูุงู„ู’ูƒูุชูŽุงุจู ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุงู…ููˆุง ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ุฅูู†ู‘ูŽุง ู„ูŽุง ู†ูุถููŠุนู ุฃูŽุฌู’ุฑูŽ ุงู„ู’ู…ูุตู’ู„ูุญููŠู†ูŽ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang Mengadakan perbaikan”. (Al-A’raf:170)

Renungkanlah akhi yang mulia apa yang difirmankan Allah “Orang-orang yang berpegang teguh” sebagai petunjuk akan kekuatan, semangat, azam, kesungguhan, motivasi dalam mengambil kita..!

Sampai jumpa lagi pada pertemuan “Suara hati” saya memohon kepada Allah yang tidak pernah menyiapkan titipan kepada-Nya.

Allahu Akbar

Dan segala puji hanya milik Allah.

Muhammad Mahdi Akif

TADABBUR AYAT BERAWALAN “YA AYYUHAL LADZINA AMANU” (2) La Taquulu Raa’ina

 

Allah SWT berfirman:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ู„ุง ุชูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุฑูŽุงุนูู†ูŽุง ูˆูŽู‚ููˆู„ููˆุง ุงู†ู’ุธูุฑู’ู†ูŽุง ูˆูŽุงุณู’ู…ูŽุนููˆุง ูˆูŽู„ูู„ู’ูƒูŽุงููุฑููŠู†ูŽ ุนูŽุฐูŽุงุจูŒ ุฃูŽู„ููŠู…ูŒ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih” . (Al-Baqarah:104)

Ayat ini merupakan seruan pertama Allah kepada orang-orang beriman, terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 104, seruan sekaligus larangan kepada orang-orang beriman untuk tidak menyerupai akhlak dan perilaku musuh Allah yaitu Yahudi, mereka yang meniru perkataan orang-orang beriman namun diplesetkan menjadi sebuah ejekan.

Orang beriman adalah mulia, Allah telah memberikan hidayah kepadanya sebagai nikmat paling indah dan mulia, namun anugerah ini harus dijaga dan dipelihara dengan cara memiliki akhlak yang mulia, diantaranya adalah dengan tidak meniru perilaku buruk orang-orang yahudi yang suka mengejek umat Islam terutama Nabi Muhammad saw.

Sebab diturunkannya seruan ini

Ibnu Abbas RA menjelaskan tentang sebab diturunkannya seruan ini sebagai berikut: “Pada mulanya umat Islam berkata Ra’ina kepada Rasulullah saw sebagai permohonan dan keinginan untuk mendapat perhatian. kata Ra’ina berarti Perhatikanlah kami! namun kata ini diubah menjadi umpatan oleh kaum yahudi. Mereka mempergunakan kata tersebut ditujukan kpeada Nabi saw lalu menertawakannya. Dan ketika Sa’ad bin Mu’adz mendengar ejekan mereka, maka ia pun berkata kepada kaum Yahudi, “Semoga laknat Allah menimpa kalian, sungguh jika aku mendengar ejekean seperti ini keluar dari mulut salah seorang dari kalian dan dikatakan dihadapan Rasulullah saw niscaya aku penggal lehernya. Kaum Yahudi menjawab: “Bukankah kalian juga mengatakan demikian”?. Kemudian Allah menurunkan ayat ini dan melarang orang-orang beriman mengucapkan kata Ra’ina suapaya kata tersebut tidak diputarbalikkan oleh kaum Yahudi dengan tujuan merusak maknanya.

Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orangย  Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan “Unzhurna” yang juga sama artinya dengan Raa’ina.

Ibnu Katsir berkata: “Allah melarang hamba-Nya yang beriman menyerupai kaum kafir, baik dalam ucapan ataupun dalam perbuatan, karena kaum Yahudi mencermati ungkapan yang dapat diputarbalikkan maksudnya. Ketika mereka ingin berkata, Isma’ lana (dengarkanlah kami), maka kata yang mereka gunakan adalah Raina yang mereka putar balikkan menjadi Ru’unah yang berarti kebodohan yang sangat”.

 

Inti sari Ayat:

Bahwa ayat diatas menegaskan kepada orang beriman untuk mendengar dan memperhatikan 3 hal:

  1. Tidak Menyerupai Kaum Kafir baik perkataan maupun perbuatan

Konteks ayat diatas bisa difahami menyerupai orang Yahudi secara mutlak yang mengakibatkan kekufuran, atau menyerupai mereka dalam kadar/aspek tertentu; kekafirannya, tren atau karakter, maka hukumnya disesuaikan dengan hal itu. Yang jelas, ayat ini menuntut pengharaman menyerupai mereka di segala segi. Adapun maksud dari penyerepuaan disini adalah umum, mencakup (orang yang berbuat sesuatu) karena orang lain melakukan itu juga dan (orang yang meniru orang lain) dalam suatu perbuatan dengan tujuan memperoleh perhatian dari orang yang ditiru.

Dan pada masa sekarang ini, umat Islam senantiasa meniru barat dalam segala hal, baik dalam ucapan maupun tindakan, aktivitas dan sikap, tradisi dan pakaian, dengan kayakinan bahwa merekalah sumber kebudayaan, pusat peradaban dan jalan menuju kebangkitan. Bahkan kaum wanitanya pun ikut-ikutan dengan pakaian yang terbuka, mini dan bahkan hampir telanjang, jika ditanya maka mereka akan menjawab “inilah mode yang lagi nge-trend”.ย  Padahal Nabi saw bersabda: “Wanita manapun yang melepaskan bajunya selain di rumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka aib antara dirinya dan Allah SWT”.

  1. Beretika yang baik dan sopan kepada Rasulullah saw

Seruan yang sedang kita bicarakan ini juga menegaskan tentang bagaimana seharusnya sikap seorang mukmin kepada Rasulullah saw, berlaku sopa dan hormat kepada Rasulullah saw. Menjaga etika di hadapan Rasulullah saw juga berarti mengimplementasikan sunnah Nabi dan mengikuti akhlak beliau, tidak menjadikan panggilan kepada nya seperti panggilan panggilan kita kepada umat Islam lainnya, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)”. (An-Nuur:63)

Adh-Dhahak berkata: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya para Sahabat memanggil Rasulullah saw dengan Wahai Muhammad, Wahai bapak Qasim (ya Abul Qasim) maka Allah melarangnya sebagai penghormatan kepada Nabi saw. Allah berfirman: Maka katakanlah wahai Nabiyullah, wahai Rasulullah”.

  1. Informasi bahwa orang kafir pasti akan mendapat azab yang pedih

Diakhir ayat Allah SWT menegaskan tentang akibat buruk atas orang-orang kafir yaitu azab yang pedih, dan tentunya maksud dari ungkapan tersebut adalah bahwa mengejek, mencela dan mencemooh nabi adalah perbuatan orang-orang kafir sehingga harus dijauhi oleh orang-orang beriman, karena jika dilakukan maka nasibnya seperti orang-orang kafir yang mendapat siksa yang pedih.

Jika diawal Allah menyeru orang-orang beriman dan diakhiri tentang orang-orang kafir, maka maksudnya adalah bahwa orang beriman pasti akan mendapat nikmat yang berlimpah dan penuh dengan kesenangan, sementara orang kafir akan beroleh azab yang pedih dan penuh dengan penderitaan.

KARYA KEPATUTAN KITA

ADAKAH MOMEN MAHAL SEBAGAI KARYA KEPATUTAN KITA???

ุฑูˆู‰ ุงู„ุญุงูƒู… ููŠ ุงู„ู…ุณุชุฏุฑูƒ ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญูŠุญูŠู† ู‚ุงู„ : ู‚ุงู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ูŠูˆู… ุงู„ุฎู†ุฏู‚ ุจุนุฏ ุงู† ู‚ุชู„ ุนู„ูŠ ุนู…ุฑูˆ ุจู† ุนุจุฏูˆุฏ ู„ุถุฑุจุช ุนู„ูŠ ูŠูˆู… ุงู„ุฎู†ุฏู‚ ุฎูŠุฑ ู…ู† ุนุจุงุฏุฉ ุงู„ุซู‚ู„ูŠู† ุงู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ

 

Diriwayatkan oleh Imam Al Hakim Dalam Kitabnya Al Mustadrak yang dishahihkan Imam Bukhari dan Muslim, dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda pada hari Pertempuran Khandaq setelah terbunuhnya Amr bin Abdi Wud: โ€œSesungguhnya tebasan pedang Ali bin Abi Thalib RA. Pada hari pertempuran Khandaq itu lebih baik daripada ibadahnya penghuni langit dan bumi hingga hari Kiamatโ€.

Berharganya sebuah karya: (1) karena momen mahal yang jarang terjadi dan sulit kita dapatkan kesempatan itu berulang, (2) Hasil karyanya memberikan dampak yang sangat luar biasa baik secara internal kaum muslimin maupun eksternal yang dirasakan mereka, (3) Tidak semua orang bisa lakukan hal yang dia sumbangsihkan, (4) Karyanya merupakan karya yang unik dan langka.

Tiga Nasihat

3 NASIHAT IMAM AHLI MAKKAH DI ZAMANNYA, SUFYAN BIN UYAINAH

ูƒุงู† ุงู„ุตุงู„ุญูˆู† ูŠุชูˆุงุตูˆู† ุจุซู„ุงุซ ูƒู„ู…ุงุช ู„ูˆ ูˆุฒู†ุช ุจุงู„ุฐู‡ุจ ู„ุฑุฌุญุช ุจู‡:

ุงู„ุฃูˆู„ู‰ : ู…ู† ุฃุตู„ุญ ู…ุงุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู„ู„ู‡ ุฃุตู„ุญ ุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู„ู†ุงุณ.

ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ : ู…ู† ุฃุตู„ุญ ุณุฑูŠุฑุชู‡ ุฃุตู„ุญ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ุงู†ูŠุชู‡.

ุงู„ุซุงู„ุซุฉ : ู…ู† ุงู‡ุชู… ุจุฃู…ุฑ ุขุฎุฑุชู‡ ูƒูุงู‡ ุงู„ู„ู‡ ุฃู…ุฑ ุฏู†ูŠุงู‡ ูˆุขุฎุฑุชู‡…
Orang-orang shalih dahulu saling berwasiat dengan tiga kalimat, yang jika dibandingan dengan emas, pastilah lebih berharga:
โžก 1. Siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan perbaiki hubungannya dengan manusia

โžก 2. Siapa memperbaiki hatinya (batinnya), Allah perbaiki tampilannya (luarannya)

โžก 3. Siapa perhatian kepada akhiratnya, Allah cukupi urusan dunia dan akhiratnya

๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต๐Ÿ”ต

_Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya di kitab Al-Ikhlas dan dinukil Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di awal Kitab Iman, Majmu’ Fatawa_

KATA-KATA PENUH HIKMAH

ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู… ูŠุณุชุทูŠุน ุงู„ูˆู‚ูˆู ุจุนุฑูุฉุŒ ูู„ูŠู‚ู ุนู†ุฏ ุญุฏูˆุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ุนุฑูู‡

Siapa yang belum mampu wukuf di Padang Arafah, maka wukuflah ( berdiri dan menahan diri) dari batasan-batasan Allah yang ia telah ketahui.

ู…ู† ู„ู… ูŠุณุชุทูŠุน ุงู„ูˆุตูˆู„ ย ู„ู„ุจูŠุช ู„ุฃู†ู‡ ู…ู†ู‡ ุจุนูŠุฏุŒ ูู„ูŠู‚ุตุฏ ุฑุจ ุงู„ุจูŠุช ูุฅู†ู‡ ุฃู‚ุฑุจ ุฅู„ูŠู‡ ู…ู† ุญุจู„ ุงู„ูˆุฑูŠุฏ

Siapa yang belum mampu mendatangi Ka’bah (rumahnya), hendaknya dia mendatangi Tuhan Pemilik Ka’bah, sebab zat-Nya lebih dekat jaraknya dari urat nadi kita..

ู…ู† ู„ู… ูŠู‚ุฏุฑ ุนู„ู‰ ู†ุญุฑ ู‡ุฏูŠู‡ ุจู…ู†ู‰ุŒ ูู„ูŠุฐุจุญ ู‡ูˆุงู‡ ู‡ู†ุงู„ูŠุจู„ุบ ุจู‡ ุงู„ู…ู†ู‰

Siapa yang belum mampu menyembelih hewan qurban ย di Mina, hendaknya ia menyembelih hawa nafsunya agar dapat meraih harapan tertinggi dalam hidupnya.