Beramal Tanpa Meminta Balasan

Oleh Ust Aunur Rafiq

 

Syaikh Ibnu Atha’illah as-Sakandari berkata:

متى طلبت عوضا على عمل طولبت بوجود الصدق فيه ويكفى المريب وجدان السلامة

BILA ENGKAU MEMINTA GANTI/UPAH ATAS SUATU AMAL, MAKA ENGKAU PUN DITUNTUT ATAS KEBENARAN/KESUNGGUHAN DALAM BERAMAL. CUKUPLAH BAGI ORANG YANG RAGU SEKEDAR SELAMAT (DARI HUKUMAN).

Seharusnya seseorang beramal tanpa memerhatikan apa yang telah dilakukannya tersebut. Suatu amal bisa sampai pada peringkat sempurna jika pelakunya tidak meminta balasan kepada Allah atas apa yang dilakukannya. Hendaknya ia beramal hanya semata-mata untuk melaksanakan ubudiyah, yang menurut sunnatullah ia akan dibalas.

“Dan barang apa pun yang kamu infaqkan, maka Allah akan menggantinya”. (Saba’: 39)

Sedang adab yang harus dijaga adalah memerhatikan amal seakan-akan ditolak, bahkan engkau takut terhadap hukuman, karena kemungkinan riya’. Sebab orang yang beramal karena ingin dilihat manusia itu tidak hanya ditolak amalnya, tetai juga layak memperoleh hukuman lantaran riya’ (pamer).

Engkau akan mendapat pahala jika engkau benar dalam amalmu. Namun siapakah yang dapat menjamin kebenaran untukmu dalam setiap amalmu? Karena itu syaikh Ibnu Atha’illah menegaskan: “Cukuplah bagi orang yang ragu (amalnya diterima atau tidak) sekedar selamat (dari hukuman).”.

Jika seseorang berbuat lalu dihinggapi keraguan (apakah amalnya diterima atau ditolak), maka besar harapan ia bisa selamat, tetapi ia harus melanjutkan terus amal saleh yang sudah dilakukannya, tanpa beranggapan bahwa amal yang ditunaikannya mesti berhak memperoleh sesuatu dari Allah.

Syaikh Ibnu Atha’illah berkata:

لا تطلب عوضا على عمل لست له فاعلا، يكفى من الجزاء على العمل ان كان له قابلا

JANGANLAH ENGKAU MEMINTA BALASAN ATAS SUATU AMAL YANG BUKAN ENGKAU PELAKUNYA, DAN JIKA ALLAH MENERIMA AMAL TERSEBUT, CUKUPLAH ITU SEBAGAI BALASAN BAGIMU

Tema ini cukup pelik, dan perihal penciptaan perbuatan inilah yang menjadi perdebatan sengit antara Ahli Sunnah dan kaum Mu’tazilah. Ahli Sunnah menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta hamba-hamba-Nya sekaligus amal-amal mereka. Firman Allah:

“Dan Allah telah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan”. (ash-Shaffat: 96)

Dengan demikian, berbagai ibadah dan ketaatanmu adalah lantaran diciptakan Allah. Jadi pelaku sesungguhnya adalah Allah, bagaimana mungkin engkau meminta upah atas suatu amal yang pemeran sebenarnya adalah Allah. Tampaknya memang engkau pelakunya, tetapi pelaku yang sebenarnya adalah Allah.

Balasan yang hakiki untukmu adalah jika Allah menerima amalmu. Amat tidak pantas bila engkau meminta balasan dari Allah. Jika Allah menerimamu, ini sudah cukup buatmu, dan ini merupakan balasan yang sangat besar. Adapun amal yang telah engkau lakukan, sebenarnya masih jauh dari apa yang dituntut dan diwajibkan. Dan bila seseorang melihat berbagai nikmat Allah yang diberikan kepadanya, maka ia tidak menemukan satu amal pun yang dibalas lebih rendah.

“Dan jika engkau menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya”. (an-Nahl: 18)

Amal apakah yang sebanding dengan nikmat-nikmat tetsebut, jika hal itu bukan merupakan karunia Allah?

اذا اراد ان يظهر فضله عليك خلق و نسب اليك

BILA ALLAH HENDAK MENAMPAKKAN KARUNIA-NYA KEPADAMU, MAKA DIA PUN MENCIPTAKAN AMAL DAN MENISBATKANNYA KEPADAMU

Artinya, Allah menisbatkan segenap perbuatan dan karunia-Nya kepadamu. Karena itu ungkapan yang kerap terdengar semisal, “Ini orang dermawan. Ia seorang ahli ibadah atau orang yang zuhud”. Namun semuanya itu terwujud lantaran anugerah Allah, maka syukurilah dan jangan engkau ghurur (terpedaya).

Syaikh Ibnu Atha’illah menguraikan masalah ini karena ingin menyadarkan kita bahwa segala kebaikan itu dari Allah, lantaran Allah, dan kembali kepada Allah. Karena itu, janganlah beranggapan dan merasa bahwa engkau memiliki hak terhadap Allah, karena bila Allah menyerahkan dirimu kepadamu, niscaya celamu makin bertumpuk-tumpuk, sebab dalam sekilas waktu engkau mungkin melakukan beratus-ratus kesalahan. Jika Allah mengurusmu, maka Dia akan memberimu berbagai karunia.

Karena itu, jangan pernah merasa berjasa sedi

kit pun atas suatu kebaikan, betapa pun besarnya kontribusimu di dalam kebaikan itu, demi menjaga adabmu kepada Allah, dan supaya kamu tidak ghurur atau ujub.

Baca: Rambu-Rambu Jalan Ruhani, Said Hawa, Robani Pres, 440-443.

Aunur Rafiq Saleh Tamhid Lc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s