Kebangkitan Umat

Prof. DR. Ahmad Satori Ismail

Allah SWT. menciptakan manusia bertingkat-tingkat (an naasu kal ibilil miati) bahwa manusia diumpamakan 100 onta. Laa takaadu tajidu fiihaa roohilah (hampir-hampir dari 100 onta itu tidak ada yang bisa menanggung beban berat). “Innamannaasu kal ibilil miati laa takaadu tajidu fiihaa roohilah” (Sesungguhnya manusia itu bagaikan seratus ekor unta, hampir-hampir tidak kamu temukan di antara mereka yang benar-benar roohilah (unta pembawa beban berat))” (H.R. Al Bukhari).

Demikian juga manusia, ada manusia-manusia yang mampu menanggung beban berat sebagai mujaddid (pembaharu) atau mujtahid (orang-orang yang betul-betul kokoh, mengokohkan agama Allah SWT.).

Oleh sebab itu, Allah SWT. menyuruh kita menyiapkan generasi yang mampu membangkitkan umat ini. Sebab di antara umat ini banyak sebenarnya manusia-manusia yang akan mampu membawa beban berat.

Di dalam Q.S. An Nuur [24]: 36, “fii buyuutin adzinallahu anturfa’a wa yudzkarafiihasmuhuu yusabbihulaHu fiihaa bil ghuduwwiwwal aashool” (Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut namaNya, di sana bertasbih (mensucikan) namaNya pada waktu pagi dan petang.

Bahwa di rumah-rumah Allah SWT. yang diizinkan untuk diangkat ismullah dimana manusia-manusia di dalamnya bertasbih pada pagi, siang, sore dan malam. Untuk apa? Berdzikir kepada Allah SWT. Karena kebangkitan suatu umat berangkat dari masjid yang ramai dengan manusia-manusia bertaqwa/muttaqiin dan manusia-manusia yang banyak mengagungkan ismullah. Dari situlah akan bangkit umat. Sehingga Rasulullah SAW. ketika hijrah pun, yang pertama kali dibangun adalah masjid karena ini adalah azas kebangkitan.

Untuk mencapai itu, diperlukan dakwah untuk melahirkan generasi yang mampu meramaikan masjid, mengisi masjid dengan dzikir, istighfar, doa dan berbagai macam ibadah lainnya. Dan Allah SWT. menegaskan bahwa dakwah untuk mencapai Islam yang rahmatan lil ‘alamiin sebagaimana disampaikan oleh Allah SWT. di dalam Q.S. Yusuf [12]: 108, “Qul Haadzihii sabiilii ad’uu ilallah ‘alaa bashiiratin ana wa manittaba’anii” (Katakanlah (Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin.”

Yaitu sekelompok manusia yang dipimpin secara teratur kemudian mereka seluruhnya mengarahkan agar manusia seluruhnya menjadi generasi kebangkitan. Siapa yang kelak akan mampu membangkitkan umat ini? Pada realitanya, jumlahnya ada maksimal tetapi dayanya tidak maksimal. Maka, dakwah ini harus berusaha memaksimalkan jumlah yang besar ini untuk memaksimalkan daya.

Kita sudah paham bahwa umat Islam besar, umat Islam memiliki potensi yang besar. Tetapi bagaimana jumlah yang besar ini menjadi maksimal dayanya? Untuk itu perlu disiapkan manusia-manusia yang memiliki ciri yang disebutkan pada Q.S. An Nuur [24]: 37, “orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat).”

Siapa yang akan meramaikan masjid? Siapa yang akan akan membangkitkan umat? Rijaalul laa tulHiiHim tijaarotuwwalla bay’un ‘andzikrillah wa iqoomishsholaati wa iitaaidzdzakaati yakhoofuuna yawman tataqollabu fiihil quluubu wal abshoor. Mereka adalah rijaalun. Dalam Bahasa Arab, rijaalun adalah bentuk jamak dari rojul. Rojulun maknanya laki-laki. Tetapi ketika disebutkan di dalam Al Qur’an rijaal artinya adalah orang-orang hebat, tokoh, pembawa kebangkitan, pembawa menuju kepada keagungan dan kejayaan umat.

Mereka (rijal) yang dapat membawa kebangkitan umat yang disebutkan di dalam ayat ini memiliki empat ciri:

1. Rijaalul laa tulHiiHim tijaarotuwwalla bay’un ‘andzikrillah (orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangandan jual beli dari mengingat Allah)

Yaitu manusia-manusia hebat yang mereka aktif berbisnis, berniaga, berdagang, mencari nafkah tetapi tidak melupakan dari dzikrullah; mereka menguasai bisnis. Jangan sampai jumlahnya maksimal tetapi daya bisnisnya minimal. Kemampuan bisnisnya itu harus seluruhnya dilandasai dan disampul dengan dzikrullah. Bisnisnya hanya karena Allah Ta’ala, bisnisnya hanya untuk mencari ridho Allah Ta’ala.

Sehingga kalau menjadi seorang pegawai pun, dia menjadi pegawai yang betul-betul sesuai dengan aturan Allah SWT., memiliki integritas, memiliki amanah, memiliki kejujuran, dan sifat-sifat mulia lainnya.

2. Wa iqoomishsholaah (melaksanakan sholat)

Yang mampu menggerakkan umat ini menuju kebangkitan adalah manusia-manusia yang disebut iqoomishsholaah yaitu manusia-manusia yang melaksanakan sholat. Bukan sekedar melaksanakan sholat bukan sekedar menjaga sholat.

Disebutkan di dalam Al Qur’an Q.S. Al Mu’minuun [23]: 9, “walladzhiinaHum ‘ala sholawatihim yuhafizun (serta orang-orang yang memelihara sholatnya); ada juga “yuqiimunassholah” dan di dalam Q.S. Al Ma’arij [70]: 23, “alladzdiinahum ‘alashsholaatiHim daa’imuun” (mereka tetap setia melaksanakan sholatnya).

Sholat adalah sebagai tiang agama, maka ketika manusia Muslim melaksanakan tiang agama ini dan menegakkan sholat terus menerus maka akan tegak syarat rukunnya, tegak hukum-hukum yang ada, tegak semua pengaruh-pengaruh sholatnya.

Setelah melaksanakan sholat, dia menjadi orang yang amanah, orang yang paling baik, paling disiplin, orang yang betul-betul mengikuti aturan dengan baik. Itu manusia yang iqoomissholaah. Sehingga dituntut orang yang mampu membangkitkan umat adalah ahlul ‘ibadah (orang yang ahli ibadah) karena segala perbuatannya di dalam hidup ini adalah untuk ibadah. Orang yang memahami hakikat ini maka dia akan bersemangat, dia akan melihat segala gerakan, segala ucapan, dan segala yang dilakukannya mempunyai nilai ibadah.

3. Wa iitaidzdzakaah (dan menunaikan zakat)

Manusia yang mampu menggerakkan kebangkitan umat adalah manusia yang menunaikan zakat. Zakat adalah termasuk kewajiban dan rukun Islam yang cukup ditelantarkan. Orang yang menunaikan sholat ada banyak, tapi berapa banyak orang yang kaya, pedagang, memiliki sawah berhektar ketika sudah sampai nisab tapi kemudian tidak mengeluarkan zakat walaupun dia mengaku Muslim.

Oleh sebab itu, Muslim yang mampu membangkitkan umat ini adalah manusia-manusia yang betul-betul menegakkan amalan zakat. Artinya dia memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Kalau umat Islam mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, maka tidak ada orang-orang di sekelilingnya yang telantar, tidak akan ada orang-orang yang bisa dimurtadkan.

Jadi, Muslim harus peduli pada kelompok yang paling dekat, mulai dari keluarganya, tetangganya dan seluruhnya diperhatikan. Inilah ciri ke tiga manusia yang dapat membangkitkan umat yaitu dengan menunaikan zakat maka akan memiliki kepedulian yang tinggi.

4. Yakhoofuuna yawman tataqollabu fiihil quluubu wal abshoor (Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat))

Manusia yang sangat ukhrowi adalah sangat takut kepada hari kiamat, sangat takut dengan yaumul hisab. Ketika bekerja takut dengan yaumul hisab, maka dia tidak mungkin akan korupsi; ketika berdagang dan takut kepada yaumul hisab, dia tidak mungkin akan menipu, tidak mungkin akan melakukan ihtikar (zalim), tidak mungkin akan melakukan sesuatu yang ghoror,  yang tidak sesuai dengan syariah karena takut segala tingkah lakunya akan diminta pertanggungjawabannya di akhirat kelak.

Sesungguhnya kesuksesan manusia-manusia mukmin terdahulu adalah manusia-manusia yang meletakkan prioritas pada ukhrowi. Abu Bakar Ash Shiddiq R.A. sukses karena sangat ukhrowi, Umar bin Khattab R.A. sukses karena sangat ukhrowi, selalu ingat apa yang dia lakukan pasti akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT.

Kalau ada pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita sifat yang empat ini maka akan melahirkan manusia yang aktif berbisnis dan dilandasi dengan dzikrullah, manusia-manusia yang ahlul ‘ibadah, manusia-manusia yang betul memiliki kepedulian sosial, manusia-manusia yang sangat takut akhirat/manusia-manusia ukhrowi inilah yang akan mampu membangkitkan umat. Dan satu bangsa tidak pernah akan bangkit kecuali dibangkitkan pertama kali adalah dari aspek ukhrowinya/jiwanya. Ketika jiwanya benar, jiwanya betul-betul takut kepada Allah SWT. maka semua perilakunya akan didasari atas Al Qur’an dan As Sunnah.

Ini adalah satu landasan bahwa dalam semua langkah dan gerak kita harus mengarahkan dan menyiapkan generasi yang memiliki empat ciri itu. Kalau itu terjadi, dalam ayat berikutnya Q.S. An Nuur [24]: 38, (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas. Artinya kalau kita benar-benar menyiapkan manusia-manusia seperti itu maka Allah SWT. akan memberikan balasanNya bukan sekedar balasan dunia dan akhirat tapi bahkan Allah SWT. menjanjikan “wa yaziidaHum minfadhli” (dan agar Dia menambah karunia-karuniaNya yang lain kepada mereka).

Akhirnya, mereka yang dapat membangkitkan umat adalah tidak dimonopoli oleh orang lain, tidak didikte oleh orang lain tapi betul-betul menjadi pewaris bumi sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. di dalam Q.S. Al Anbiyaa’ [21]: 105, “Innal ardho yaritsuHaa ‘ibaadiyashshoolihuun” (bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaKu yang sholeh).

Sumber: Youtube Channel (https://www.youtube.com/watch?v=SIxbG7jheHE)

__________________________

Kunjungi: https://binajiwa.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s